Mohammad Natsir : Seorang Pejuang Pendidikan

M. Natsir

Tidak banyak yang tahu kalau Mohammad Natsir adalah seorang pejuang pendidikan. Pria kelahiran Alahan Panjang, Sumatra Barat 17 Juli 1908 ini banyak menghabiskan hidupnya di dunia pendidikan, terutama pendidikan Islam.

M. Natsir
M. Natsir
Sumber: http://nuun.id/mohammad-natsir-sebagai-manusia-sehari-hari

Semua konsentrasi hidupnya untuk dunia pendidikan setelah ia disisihkan di politik. Setidaknya ada sembilan universitas yang ia ikut andil dalam proses pendiriannya seperti Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam Sumatera Utara, Universitas Riau, Universitas Ibn Khaldun Bogor dan sebagainya.

Mohammad Natsir memiliki perhatian yang luar biasa dalam memperhatikan pendidikan rakyat kecil pada zamannya. Sangat layak jika ia disejajarkan dengan tokoh pendidikan lainnya seperti Ki Hajar Dewantara dan KH. Ahmad Dahlan.

Diantara perjuangan beliau dalam memberikan akses pendidikan agama adalah saat ia menjabat perdana menteri. Ia bersama menteri agama, Wahid Hasyim mewajibkan pelajaran agama di sekolah-sekolah umum.

Mohammad Natsir mengenyam pendidikan di HIS ( Hollands Inlansche school ) di Solok pada tahun 1916-1923. Pada tahun 1923-1927, ia memasuki jenjang MULO ( Meer UItgebreid Lager Onderwijs ) di Padang dan pada tahun 1927-1930 ia masuk AMS (Algemere Middelbare school) di Bandung.

Algemere Middelbare school
Algemere Middelbare school
Sumber : Wikipedia

Meski mengenyam pendidikan barat, tak lantas ia melupakan pendidikan agamanya. Semasa belajar di HIS, sore harinya ia pergunakan untuk madraah diniyah.  Interaksi dengan ilmu-ilmu agama begitu masif saat belajar di AMS ( Algemere Middelbare school ) Bandung.

Kegigihannya dalam mempelajari agama tidak terlepas dari bertemunya ia dengan sosok-sosok yang inspiratif. Mereka adalah pimpinan persis A. Hasan, Haji Agus Salim dan pendiri Al Irsyad Islamiyah Syaikh Akhmad Soerkati. Mereka tidak saja memberikan ilmu tetapi juga keteladanan yang luar biasa seperti kerapian, kerja keras, kealiman dan juga debat.

Pada tahun 1930, ia menamatkan sekolahnya di AMS dengan nilai yang tinggi. Paling tidak ada dua beasiswa yang ditawarkan kepadanya yaitu Fakultas Hukum di Jakarta atau Ekonomi di Rotterdam Belanda. Tetapi, kedua beasiswa itu tidak diambil.  Ia lebih mengikuti kata hatinya untuk berjuang di tengah masyarakat melalui dakwah dan pendidikan Islam.

Hari-harinya ia sibukkan diri mengurusi keumatan dan aktif  di majalah Pembela Islam, sedangkan pada malam harinya ia gunakan untuk menelaah tafsir Al Quran dan kitab-kitab penunjang lainnya. Ia juga belajar dan menulis dalam Bahasa Inggis dan Bahasa Eropa lainnya.

Tahun 1931-1932, Natsir mengambil kursus guru diploma LO ( Lager onderwijs ) dan pada tahun 1932-1942 ia dipercaya sebagai direktur pendidikan Islam ( Pendis ) di Bandung. Di Pendis, ia tidak hanya mengkonsep kurikulum, mengajar dan mengelolah gurunya tapi juga berjuang mencari dana untuk sekolahnya. Bahkan terkadang ia menggadaikan gelang istrinya untuk operasional sekolah.

Sebagai orang yang haus dengan ilmu, ia senantiasa menggali dan mengembangkan keilmuannya. Hingga menjelang akhir hayatnya. Natsir selalu mengkaji tafsir Al Quran. Tiga kitab tafsir yang senantiasa ia baca adalah Tafsir Fii Dzilalil Quran karya Sayid Qutb, Tafsir Ibn Katsir, dan tafsir Al Furqon karya A. Hasan. Sampai akhir hayatnya, ia berkhidmat di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia ( DDII ) dan wafat pada tahun 6 Februari 1993 di Jakarta.

Referensi

Husaini, Adian. 2012. Pendidika  Islam.Cakrawala publishing: Jakarta

https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Natsir_1948.jpg

 

About Dhiyaa Uddin

Hamba Allah yang gemar menulis

View all posts by Dhiyaa Uddin →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *