Mengintip Rumah Sakit di Masa Peradaban Islam

Dokter Islam memeriksa pasien di rumah sakit

Prof. DR. Raghib As-sirjani dalam “Sumbangan peradaba islam pada Dunia “ mengatakan bahwa salah satu keunggulan peradaban islam adalah adanya penyatuan antara kebutuhan jasad dan kebutuhan ruh.

Pada masa kejayaan peradaban islam, salah satu aspek yang paling diperhatikan adalah fasilitas kesehatan.. Pada masa itu, bermunculan rumah sakit-rumah sakit  sebagai sarana penunjang kesehatan untuk rakyat. Rumah sakit pada waktu itu dikenal dengan Al-Baimaristanat ( tempat tinggal orang sakit ).

rumah sakit islam tua
Bimaristan

https://en.m.wikipedia.org/wiki/File:The_Arab_hospital-Granada_Bimarstan.jpg

Rumah sakit islam pertama didirikan pada masa kekhalifahan Al Walid bin Abdul Malik yang menjabat pada tahun 86-97 H  ( 705-715 M ). Rumah sakit yang dia bangun difokuskan untuk penyakit lepra.

Konsep rumah sakit terdiri dari dua, yaitu rumah sakit permanen dan berpindah-pindah. Rumah sakit yang permanen biasanya terdapat di kota-kota. Dalam satu kota, bisa dijumpai beberapa rumah sakit. Sedangkan rumah sakit yang berpindah-pindah biasanya terletak di daerah pedesaan. Ia terkadang di padang pasir atau gunung-gunung. Untuk kepindahannya, biasanya diangkut dengan unta. Paling tidak dibutuhkan empat puluh unta untuk sekali angkut.

Sebagaimana saat perpindahan rumah sakit di masa sultan Mahmud As Saljuni yang memerintahkan dari tahun 511-525 H ( 1117 – 1131 M). Unta-unta tersebut mengangkut berbagai macam perlengkapan medis dan obat-obatan juga sejumlah dokter.

Sedangkan untuk rumah sakit permanen, Ia memiliki standar kualitas yang tinggi. Misalkan rumah sakit Al Adhudi yng berada di kota Baghdad dan didirikan pada tahun 371H/981M, rumah sakit An Nuri di Damaskus yang didirikan tahun 549 H/1154 M dan rumah sakit Al Manshuri Al-Kabir di Kairo yang didirikan 683 H/ 1284 M. Bahkan di Cordova terdapat lebih dari lima puluh rumah sakit.

Setiap rumah sakit permanen memiliki unit-unit spesial. Ada bagian penyakit dalam, spesialis bedah dan operasi, penyakit kulit, penyakit mata, penyakit jiwa, penyakit tulang dan lain sebaginya. Tidak hanya itu. rumah sakit itu juga difasilitasi dengan fakultas kedokteran. Biasanya seorang dokter spesials paginya mengunjungi pasien-pasien disertai dokter-dokter muda. Setelah itu mereka pergi ke aula untuk mengajar, berdiskusi, menjelaskan materi kuliah. Rumah sakit juga memiliki lahan yang luas untuk ditanami berbagai tanaman obat-obatan, menyuplai kebutuhan dan obat-obatan rumah sakit.

Dokter Islam memeriksa pasien di rumah sakit
Dokter Islam memeriksa pasien di rumah sakit

Rumah sakit juga memiliki koleksi buku yang luar biasa. Koleksinya berkaitan dengan kedokteran, obat-obatan, ilmu bedah fungsi anggota tubuh. Juga ilmu-ilmu fikih yang berkaitan dengan kedokteran dan ilmu-ilmu lainnya yang penting bagi seorang dokter. Seperti di perpustakaan rumah sakit Ibnu Thulum di Kairo yang menuat lebih dari seratus ribu buku.

Standar rumah sakit permanen begitu tinggi. Mereka telah memisahkan pasien dengan tingkat penyakit yang diderita dan memberikan pakaian khusus dan gratis. Sangat berbeda dengan rumah sakit di Prancis yang bahkan hadir beratus tahun setelahnya. Di Prancis, bahkan tidak ada pemisahan pasien pada saat itu. Semua pasien dikumpulkan pada satu tempat tanpa memperhatikan penyakit yang diderita.

Perhatian negara dan wakaf orang-orang kaya terhadap orang yang sakit tidak saja mendampingi sampai di rumah sakit. Tetapi jauh dari itu juga pengobatan, perhatian yang sempurna, pakaian dan makanan. Bahkan pasien difasilitasi harta yang mencukupi hingga ia mampu bekerja lagi. Lalu,  bagaimana dengan rumah sakit sekarang ini?

Bimaristan Rumah Sakit Tua
Gerbang Bimaristan

https://www.flickr.com/photos/seier/1524490934

   Referensi

As-sirjani, Raghib. 2011. Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia.Jakarta : Al Kautsar

https://en.m.wikipedia.org/wiki/File:The_Arab_hospital-Granada_Bimarstan.jpg

https://www.flickr.com/photos/seier/1524490934

About Dhiyaa Uddin

Hamba Allah yang gemar menulis

View all posts by Dhiyaa Uddin →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *