13 Panglima Islam Terhebat dalam Sejarah

Pasukan Al Fatih

Siapa yang tidak mengenal Superman, Batman dan Spiderman? Mereka adalah superhero yang dibuat oleh Dunia Barat dan digemari oleh banyak orang termasuk oleh Kaum Muslim. Padahal, superhero itu merupakan tokoh-tokoh fiksional yang tak pernah ada di dunia nyata dan dilebih-lebihkan kemampuannya. Yang mengkhawatirkan bagi kita Kaum Muslim, kita lebih kenal dan lebih kagum dengan superhero yang merupakan tokoh fiksi daripada Para Panglima Islam terhebat yang jelas nyata dan banyak menggoreskan sejarah. Mereka adalah Panglima perang, jenderal dan pahlawan muslim yang layak kita pelajari dan kita banggakan.

Berikut adalah 13 panglima Islam terhebat dalam sejarah:

  1. Muhammad ﷺ (570 M -632 M)

Rasulullah Muhammad ﷺ adalah sosok manusia yang paling sempurna. Ia adalah seorang suami romantis, ayah yang penyayang dan sekaligus panglima perang yang sangat hebat. Rasulullah ﷺ telah memulai karir peperanganya dari umur 15 tahun ketika Perang Fijar. Pada saat itu, Rasulullah ﷺ berperan sebagai penghimpun anak panah yang jatuh dan diserahkan kembali kepada pamannya yang berperang.

Rasulullah berperan penting dalam menetapkan strategi-strategi perang yang dijalankan oleh umat Muslm. Pada Perang Badar, ia ﷺ memerintahkan untuk menutup dan menguras sumur-sumur di Badar sehingga pihak musuh tidak memiliki pasokan air yang cukup. Pada Perang Uhud, ia memerintahkan pasukan pemanah tetap tinggal di bukit yang paling tinggi untuk melindungi pasukan lain di bawahnya. Pada Perang Khandaq, ia memerintahkan untuk menggali parit dan ia pun berhasil menghancurkan batu yang tidak bisa dihancurkan oleh sahabat-sahabat yang lain.

Profil perang Badar

Profil Perang Badar yang dipimpin langsung oleh Rasulullah

SUmber: Ikatan Persaudaraan Islam Jepun

  1. Khalid Bin Walid (592 M – 642 M)

Khalid Bin Walid adalah salah satu panglima perang terhebat sepanjang masa. Ia merupakan anak dari Walid bin Mughirah, salah satu tokoh penentang Rasulullah ﷺ di Makkah. Ia pernah menjadi rival Rasulullah ﷺ dalam perang Uhud dan menyebabkan kaum Muslim sangat terdesak. Namun, Khalid bin Walid, Segala Puji Bagi Allah, menjadi masuk Islam setelah Perjanjian Hudaibiyah.

Peta Perang Uhud

Peta Perang Uhud

Sumber: Islami.co

Khalid bin Walid dijuluki sebagai “pedang Allah” (syaifullah) setelah berhasil mematahkan 9 pedang musuh dalam Perang Mu’tah, yaitu perang di mana dirinya pertama kali menjadi Panglima Perang bagi Islam. Khalid bin Walid tidak pernah kalah dalam perang yang ia pimpinnya ketika Islam. Prestasi terbesarnya adalah dia memimpin perang pembebasan antara Muslim melawa 2 imperium terbesar di zamannya yaitu Romawi dan Persia. Khalid bin Walid berhasil menang melawan Persia di Perang Zumail dan berhasil menang melawan Romawi dalam pembebasan Kota Suci Jerussalem.

Meskipun Khalid bin Walid terlibat dalam banyak peperangan, namun Khalid bin Walid meninggal justru di ranjangnya. Rupanya Allah menghendaki Pedang-Nya tidak pernah hancur oleh kaum kafir, Allah menghendaki Pedang-Nya tidak terkalahkan kecuali oleh Takdir Kematiannya saja.

  1. Abu Ubaidah bin Jarrah (583 M – 639 M)

Abu Ubaidah bin Jarrah adalah salah satu dari 10 orang sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah ﷺ. Abu Ubaidah bin Jarrah diberikan julukan sebagai orang yang kuat lagi terpercaya dan orang yang amanah dalam umat ini (amiin hadziihil ummah). Beliau pernah merangsek masuk ke dalam pasukan Kaum Musyrikin ketika Perang Badar sehingga dikejar-kejar oleh ayahnya sendiri yang pada saat itu masih Musyrik. Abu Ubaidah bin Jarrah kemudian membunuh ayahnya sendiri dan lebih memilih menjadi seorang mu’min. Allah memuji Abu Ubaidah langsung dalam Surat Al Mujadalah ayat 23:

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS Al-Mujaadalah: 22)

Abu Ubaidah bin Jarrah merupakan Panglima Perang tertinggi di ekspedisi pembebasan daerah Syam. Ia memimpin penaklukan Masjid Al Aqsha dengan mengalahkan Romawi Timur (Bizantium) dalam pengepungan selama 6 bulan. Abu Ubaidah meninggal di Syam karena penyakit tha’un. Sebelum meninggal, ia memberikan wasiat:

Aku berwasiat kepada kalian. Jika wasiat ini kalian terima dan laksanakan, kalian tidak akan sesat dari jalan yang baik, dan senantiasa dalam keadaan bahagia. Tetaplah kalian menegakkan shalat, berpuasa Ramadhan, membayar zakat, dan menunaikan haji dan umrah. Hendaklah kalian saling menasihati sesama kalian, nasihati pemerintah kalian, dan jangan biarkan mereka tersesat. Dan janganlah kalian tergoda oleh dunia. Walaupun seseorang berusia panjang hingga seribu tahun, dia pasti akan menjumpai kematian seperti yang kalian saksikan ini.”

  1. Amr bin Ash (585 M – 684 M)

Amr bin Ash merupakan sahabat Nabi ﷺ yang masuk Islam bersamaan dengan masuknya Khalid bin Walid ke dalam Islam. Amr bin Ash adalah seorang yang cerdas dan pemberani. Rasulullah ﷺ dalam haditsnya meriwayatkan:

“Sesungguhnya Amr bin al-Ash adalah di antara orang-orang yang baik dari kalangan Quraisy.” (HR. Tirmidzi dalam Sunan-nya no.3845).

Amr bin Ash merupakan Panglima Islam dalam pembebasan Mesir. 4000 Pasukan Islam yang dipimpin Amr bin Ash mampu mengalahkan 50.000 orang pasukan Romawi. Ia memulai pembebasan dari Kota Farma, Belbis, Ummu Danain dan Iskandariyah. Di tengah pengepungan, tersiar kabar bahwa Raja Romawi di Konstantinopel wafat dan digantikan dengan adiknya. Sang adik yang tidak banyak mengetauhi tentang konflik di Mesir ini, memandang tidak ada celah untuk mengalahkan umat Islam. Ia memerintahkan perwakilannya di Mesir, Raja Muqauqis, agar mengikat perjanjian damai dengan umat Islam.

Umar bin Khattab berkata akan keistimewaan dan kepemimpinan Amr bin Ash ini:

“Tidak pantas, bagi Abu Abdullah (Amr bin al-Ash) berjalan di muka bumi ini kecuali sebagai seorang pemimpin.” (Riwayat Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 46:155)

5. Saad bin Waqqash (595 M – 674 M)

Saad bin Waqqash merupakan salah 1 orang dari 10 orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah ﷺ. Saad bin Waqqash adalah orang pertama yang menembakkan panahnya ke arah musuh dalam Perang Badar dan juga orang pertama yang terkena panah musuh. Keutamaan Saad bin Waqqash dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ dalam haditsnya:

“Panahlah, wahai Saad… Tebusanmu adalah ayah dan ibuku.”( HR. at-Tirmidzi, no. 3755).

“Ya Allah, tepatkan lemparan panahnya dan kabulkanlah doanya.” (HR. al-Hakim, 3/ 500).
Saad bin Waqqash merupakan Panglima Islam dalam Perang Qadisiyah dalam pembebasan Persia. 3000 pasukan kaum muslimin beradapan dengan 100.000 lebih pasukan negara adidaya Persia bersenjata lengkap. Prajurit Persia dipimpin oleh panglima mereka yang bernama Rustum. Gajah-gajah Persia dikalahkan dengan membuat kostum yang menakut-nakuti Gajah dan dipasang di kuda perang pasukan Muslim. Taktik ini menuai sukses sehingga gajah-gajah Persia ketakutan, akhirnya mereka bisa membunuh pemimpin pasukan gajah ini dan sisanya melarikan diri kebelakang menabrak dan membunuh pasukan mereka sendiri. Pasukan muslim terus menyerang sampai dengan malam hari.

Tentara gajah

Tentara gajah

Sumber: KisahIslam.net

Pada saat fajar hari keempat, datanglah pertolongan Allah SWT. dengan terjadinya badai pasir yang mengarah dan menerpa pasukan Persia sehingga dengan cepat membuat lemah barisan mereka. Kesempatan emas ini dengan segera dimanfaatkan pihak muslim, menggempur bagian tengah barisan Persia dengan menghujamkan ratusan anak panah. Setelah jebolnya barisan tengah pasukan Persia, panglima perang mereka Rustam terlihat melarikan diri dengan menceburkan diri dan berenang menyeberangi sungai, tetapi hal ini diketahui oleh pasukan muslim yang dengan segera menawan dan memenggal kepalanya.

  1. Usamah Bin Zaid (615 M – 673 M)

Usamah bin Zaid merupakan putra Zaid bin Haritsah yaitu pembantu Rasulullah ﷺ yang menikah dengan Ummu Ayman, pengasuh Rasulullah ﷺ, dan namanya disebutkan dalam Al Qur’an. Suatu ketika, Farwah bin Umar Al-Judzami, kepala daerah Ma’an yang diangkat Kaisar Romawi, menjadi pemeluk agama Islam. Hal ini membuat marah para penguasa Romawi karena Farwah dikhawatirkan dapat mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya untuk masuk Islam. Farwah kemudian dibunuh dan kepalanya dipancung, lalu diletakkan di sebuah mata air bernama Alfa’ di Palestina. Mayatnya disalib untuk menakut-nakuti para penduduk agar tidak mengikuti jejaknya.

Karena kejadian tersebut, Rasulullah ﷺ marah dan memerintahkan para sahabat untuk menyiapkan pasukan. Rasulullah ﷺ menunjuk Usamah bin Zaid sebagai panglima perang yang pada saat itu baru berumur 18 tahun dan harus memimpin sahabat-sahabat senior seperti Umar bin Khattab, Abu Ubaidah bin Jarrah, Sa’ad bin Waqqash dan lainnya.

Rasulullah ﷺ kemudian bersabda untuk menanggapi masalah tersebut:

Telah menceritakan kepada kami Isma’il, telah menceritakan kepada kami Malik dari Abdullah bin Dinar dari Abdullah bin Umar Radliallahu anhu “Rasulullah ﷺ pernah menyiapkan sebuah perang yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid. Lalu para sahabat saling mengecam kepemimpinannya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila kalian mengecam kepempinan Usamah bin Zaid, maka berarti kalian juga mengecam kepemimpinan ayahnya sebelum itu. Demi Allah, sungguh ia memang layak dengan jabatan itu. Jika bapaknya adalah termasuk orang yang paling aku cintai setelahnya.” (HR Bukhari nomor 4109 dengan derajat Shahih)

Usamah bin Zaid memimpin 2000 orang pasukan berjalan kaki dan 1000 pasukan berkuda. Ia bergerak dengan cepat ke daerah Ubna dan melancarkan serangan yang sangat cepat sehingga penduduk Ubna belum bersiap untuk melawan. Hanya selama 40 hari kemudian, mereka kembali ke Madinah dengan sejumlah harta rampasan perang yang besar, dan tanpa jatuh korban seorang pun.

  1. Thariq bin Ziyad (670 M -720 M)

Thariq bin Ziyad adalah adalah seorang jendral dari dinasti Umayyah yang memimpin penaklukan muslim atas wilayah Al-Andalus (Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya) pada tahun 711 M.

Musim panas tahun 711 M (92 H), Thariq bin Ziyad berangkat menuju Al-Andalus. Pada tanggal 29 April 711, pasukan Thariq mendarat di Gibraltar (nama Gibraltar berasal dari bahasa Arab, Jabal Tariq yang artinya Gunung Thariq). Setelah pendaratan, ia memerintahkan untuk membakar semua kapal dan berpidato di depan anak buahnya untuk membangkitkan semangat mereka:

أيّها الناس، أين المفر؟ البحر من ورائكم، والعدوّ أمامكم، وليس لكم والله إلا الصدق والصبر…

    Tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian: Demi Allah, tidak ada yang dapat kalian sekarang lakukan kecuali bersungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran.

Pasukan Tariq menyerbu wilayah Andalusia dan di musim panas tahun 711 berhasil meraih kemenangan yang menentukan atas kerajaan Visigoth, di mana rajanya, Roderick terbunuh pada tanggal 19 Juli 711 dalam pertempuran Guadalete. Setelah itu, Thariq menjadi gubernur wilayah Andalusia sebelum akhirnya dipanggil pulang ke Damaskus oleh Khalifah Walid I.

Thariq bin Ziyad membakar kapal

Thariq bin Ziyad membakar kapal

Sumber: DKM Ar Rahmah

  1. Nuruddin Zanki (1118 M – 1174 M)

Nuruddin Zanki memerintah wilayah Suriah Utara setelah ayahnya, Imaduddin Zanki, wafat pada tahun 1146. Usianya ketika itu 28 tahun. Ia memerintah wilayah itu dari kota Aleppo (Halab). Ketika kakaknya meninggal dunia pada tahun 1149, ia menggabungkan Mosul di Iraq dalam wilayah kekuasaannya. Pada tahun 1154, Damaskus, kota penting lainnya di Suriah, juga masuk dalam wilayah pemerintahannya setelah melalui strategi yang cukup panjang.

Pemerintahannya tidak ditandai dengan adanya penaklukkan spektakuler terhadap wilayah musuh seperti yang dilakukan oleh Muhammad al-Fatih terhadap Konstantinopel atau Shalahuddin al-Ayyubi terhadap al-Quds. Tetapi apa yang dilakukannya boleh jadi lebih penting. Ia menaklukkan dengan keshalehan dan nilai-nilai yang agung dari Tuhannya. Kekuatan militernya tidak dilengkapi dengan persenjataan fisik yang hebat dan istimewa. Tetapi ia memiliki senjata yang jauh lebih menggetarkan musuh-musuhnya, yaitu kekuatan doa dan pertolongan dari Yang Maha Penolong.

Selama masa pemerintahannya, ada beberapa pencapaian militer yang cukup penting yang telah dilakukan oleh Nuruddin Zanki dalam menghadapi Pasukan Salib. Ia berhasil menghalau pasukan Salib yang menyerbu Damaskus pada Perang Salib II (1147-1148). Pada tahun 1149, ia berhasil memimpin pasukan yang mengalahkan pasukan Raymond of Poitiers, pemimpin Antioch, yang ketika itu dibantu oleh sepasukan Assassin. Pada tahun 1150, pasukannya berhasil menangkap Joscelin, pemimpin wilayah Edessa yang ibukotanya telah dikuasai oleh Nuruddin. Nuruddin Zanki berhasil menyatukan Damaskus ke dalam wilayah kepemimpinannya pada tahun 1154. Pasukan Nuruddin berhasil menangkap Reynald of Chattilon, pemimpin Antioch selepas wafatnya Raymond of Poitiers, dalam sebuah pertempuran pada tahun 1160. Nuruddin mengirimkan tiga kali ekspedisi militer ke Mesir di bawah pimpinan Shirkuh antara tahun 1164 dan 1169. Mesir akhirnya jatuh ke tangan pasukan Nuruddin.

  1. Asaduddin Syirkuh (Wafat 1169 M)

“Asaduddin” berarti “Singa Agama Allah” sedangkan “Syirkuh” dalam Bahasa Kurdi berarti “singa pegunungan”. Asaduddin Syirkuh lahir di sebuah pedesaan Kurdi dekat kota Dvin. Ia merupakan saudara dari Najmuddin Al Ayubi yaitu ayah dari Salahuddin Al Ayubi.

Prestasi paling menonjol dari Asaduddin Syirkuh adalah usaha-usahanya dalam melenyapkan syiah di Mesir. Syirkuh diundang ke Mesir yang saat itu masih dalam penguasaan Dinasti Fatimiyah yang menganut Syiah atas perintah Nuruddin Zanki guna memenuhi permintaan dari Shawar, Menteri Senior (Wazir) dari DInasti Fatimiyah, untuk mengakhiri permasalahannya dengan Dirgham. Asaduddin berhasil mengalahkan Dirgham sesuai dengan misi yang diberikan oleh Shawar. Namun, SHawar berkhianat dan berbalik menjadi musuh Asaduddin setelah Shawar berkerja sama dengan Pasukan Amalrik untuk mengepung Asaduddin di Bilbeis. Asaduddin kemudian keluar dari Mesir.

Al- Adid, khalifah Dinasti Fatimiyah, mengundang Syirkuh untuk masuk ke Mesir dan menjadi kesempatan kedua Syirkuh masuk Mesir. Kali ini, ia meminta Syirkuh untuk membebaskan Kairo dari Pasukan Salib.  Shawar kembali berkerja sama dengan Pasukan Amalrik yang kembali mengepung Syirkuh di Aleksandria.

Garnisun Pasukan Salib di Mesir dan Pasukan Amalrik membangun Aliansi bersama Byzantium. Mereka berencana untuk menaklukan keseluruhan Mesir. Shawar tidak melanjutkan kerjasamanya dengan Amalrik dan balik bekerja sama dengan Syirkuh. Pasukan Salib dan Amalrik berhasil dikalahkan dan menjadikan kesempatan Syirkuh untuk membebaskan Mesir dari Syiah terbuka lebar dalam kesempatan ketiganya ini.

Akhirnya, dengan perjuangan yang luar biasa, tentara Salib bisa dikalahkan, bahkan Shawar dihukum mati. Setelah itu, diangkatlah Asaduddin menjadi pemimpin. Tak lama kemudian (2 bulan 15 hari), ia pun meninggal dan digantikan oleh Shalahuddin al Ayyubi.

  1. Shalahudin Al Ayubi (1139 M – 1193 M)

Salahudin Al Ayubi adalah seorang jenderal dan pejuang muslim Kurdi dari Tikrit (daerah utara Irak saat ini). Ia mendirikan Dinasti Ayyubiyyah di Mesir, Suriah, sebagian Yaman, Irak, Mekkah Hejaz dan Diyar Bakr.

Ia lebih dikenal dengan nama julukannya yaitu, Salahuddin Ayyubi/Saladin/Salah ad-Din (Bahasa Arab: صلاح الدين الأيوبي, Kurdi: صلاح الدین ایوبی). Salahuddin terkenal di dunia Muslim dan Kristen karena kepemimpinan, kekuatan militer, dan sifatnya yang ksatria dan pengampun pada saat ia berperang melawan tentara salib. Sultan Salahuddin Al Ayyubi juga adalah seorang ulama. Ia memberikan catatan kaki dan berbagai macam penjelasan dalam kitab hadits Abu Dawud.

Salahudin Al Ayubi merupakan pembebas Baitul Maqdis melalui pengepungan dari tanggal 20 September sampai 2 Oktober 1187 M. Salahudin Al Ayubi tidak melakukan pembunuhan apapun ketika memasuki kota Jerussalem, seperti pembantaian yang dilakukan oleh Peter The Hermit yang membuat tanah Jerussalem banjir darah. Kemuliaan Salahudin Al Ayubi ini terlukiskan dalam film Kingdom of Heaven yang justru dibuat oleh Barat.

  1. Saifuddin Qutuz (wafat 1260 M)

Saifuddin Qutuz lahir dalam keluarga kerajaan Al Khawarizmi yang pernah melawan Bangsa Mongol dan kemudian kalah. Saifuddin Qutuz kemudian dijual ke Mesir. Saifuddin Qutuz hidup dalam masa-masa kengerian terhadap pasukan Mongol yang telah menghancurkan kekhalifan Abbasiyah di Baghdad yang telah bertahta selama 500 tahun dengan pembantaian 1.8 juta muslim dalam waktu 40 hari saja.

Ketika itu, seluruh negeri Islam yaitu Baghdad, Syria dan Asia Tengah sudah jatuh ke tangan tentara Mongol. Hanya tinggal tiga negeri Islam yang belum dimasuki yaitu Makkah, Madinah dan Mesir. Maka Hulagu Khan terus merangsek berupaya menaklukkan negeri yang lain.

Pasukan Mongol

Pasukan Mongol

Sumber: Alterminds.xyz

Saifuddin Qutuz berhasil menduduki kekuasaan setelah “menurunkan” Nuruddin Ali yang umurnya masih muda dan belum punya pengaruh. Penurunan Nuruddin Ali ini dilakukan setelah berkonsultasi dnegan ulama dan melihat ancaman Mongol yang semakin mendekat ke Mesir. Dalam kurun waktu sekitar setahun (658 H), Quthuz melakukan banyak pekerjaan besar. Secara ringkas terangkum dalam kronologi sebagai berikut:

  • Quthuz memulai reformasi dalam negeri di Mesir.
  • Pengampunan terhadap mamalik bahriyyah dan penyatuan dengan bekas rival mereka mamalik mu’izziyyah.
  • Azh-Zhahir Baibars yang sempat menjadi oposisi diundang pulang ke Mesir dari Damaskus.
  • Upaya Quthuz menyatukan Mesir dan Syam lewat surat-surat untuk para emir Bani Ayyub di Syam.
  • Aleppo jatuh pada bulan Shafar, juga Damaskus pada bulan Rabiul Awwal, di bawah kekuasaan Tartar.
  • Datangnya surat ancaman Tartar untuk menyerang Mesir.
  • Quthuz memutuskan untuk memerangi Tartar.
  • Keputusan Quthuz untuk memerangi Tartar akan dilangsungkan di Palestina dan bukan di Mesir.
  • Dimulainya persiapan tentara Mesir secara ekonomi dan juga militer.
  • Dimulainya persiapan mental rakyat Mesir dengan ulama sebagai pelopornya untuk menerima ide jihad melawan Tartar.
  • Sebagian tentara Syam datang bergabung dengan Quthuz di Mesir.
  • Tentara muslim berkumpul di daerah Shalihiyah.
  • Tentara muslim bergerak menuju Palestina pada bulan Sya’ban.
  • Kemenangan muslimin di bawah Baibars atas tentara Tartar yang menjaga Gazza.
  • Perundingan dengan kaum Salib di Akka.
  • Quthuz memilih Ain Jalut untuk menjadi ajang pertempuran dengan Tartar.
  • Kemenangan muslimin di Ain Jalut yang terjadi pada 25 Ramadhan.
  • Damaskus dibebaskan dari tangan Tartar oleh pasukan yang dipimpin Quthuz pada 30 Ramadhan.
  • Aleppo dibebaskan dari tangan Tartar di bawah Baibars pada awal bulan Syawwal.
  • Quthuz kembali ke Mesir pada 26 Syawal.
  • Quthuz meninggal dunia, syahid—insyaallah.
  1. Muhammad Al Fatih ( 1432 M – 1481 M)

Muhammad al-Fatih adalah salah seorang raja atau sultan Kerajaan Utsmani yang paling terkenal. Ia merupakan sultan ketujuh dalam sejarah Bani Utsmaniah. Al-Fatih adalah gelar yang senantiasa melekat pada namanya karena dialah yang mengakhiri atau menaklukkan Kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad.

Muhammad Al Fatih menaklukan Konstantinopel sebagaimana apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya:

Dari Abdullah bin Bisyr Al Ghonawi, ia berkata: Bapakku telah menceritakan kepadaku: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لَتُفتَحنَّ القُسطنطينيةُ ولنِعمَ الأميرُ أميرُها ولنعم الجيشُ ذلك الجيشُ

Sesungguhnya akan dibuka kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu“. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 4/235, Bukhori dalam Tarikh Shoghir hal. 139, Thobroni dalam Al Kabir 1/119/2, Hakim 4/4/422, Ibnu Asakir 16/223 dan lainnya)

hadits dari Abu Qobil, ia berkata:

كنا عند عبدِ اللهِ بنِ عمرو بنِ العاصِ ، و سُئِلَ أيُّ المدينتيْنِ تُفتحُ أولًاالقسطنطينيةُ أو روميَّةُ ؟ فدعا عبدُ اللهِ بصندوقٍ له حِلَقٌ ، قال : فأخرج منه كتابًا قال : فقال عبدُ اللهِ : بينما نحنُ حولَ رسولِ اللهِ نكتبُ ، إذ سُئِلَ رسولُ اللهِ : أىُّ المدينتيْنِ تُفتحُ أولًا القسطنطينيةُ أو روميَّةُ ؟ فقال رسولُ اللهِ : مدينةُ هرقلَ تُفتحُ أولًا : يعني قسطنطينيةَ

Kami berada di sisi Abdullah bin Amr bin Ash dan beliau ditanya tentang mana kota yang dibuka terlebih dahulu, apakah Konstantinopel ataukah Romawi? Maka beliau meminta untuk diambilkan sebuah kotak, lalu beliau mengeluarkan sebuah kitab lalu berkata: ‘Berkata Abdullah bin Mas’ud: Tatkala kami bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk menulis, tiba-tiba beliau ditanya: Manakah kota yang terlebih dahulu dibuka, apakah Konstantinopel ataukah Romawi?’. Maka beliau menjawab: ‘Yang dibuka terlebih dahulu adalah kota Heraklius’. YaituKonstantinopel“.

Muhammad Al Fatih menaklukan Konstantinopel pada usia 21 tahun setelah menaklukan benteng Byzantium yang sangat kuat. Muhammad Al Fatih memiliki strategi seperti yang dilakukan oleh para pangeran Kiev yang menyerang Bizantium di abad ke-10, para pangeran Kiev menarik kapalnya keluar Selat Bosporus, mengelilingi Galata, dan meluncurkannya kembali di Tanduk Emas, akan tetapi pasukan mereka tetap dikalahkan oleh orang-orang Bizantium Romawi. Sultan Muhammad melakukannya dengan cara yang lebih cerdik lagi, ia menggandeng 70 kapalnya melintasi Galata ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu. Hal itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu malam.

Pasukan Al Fatih

Pasukan Al Fatih

Sumber: Republika.co.id

Di pagi hari, Bizantium kaget bukan kepalang, mereka sama sekali tidak mengira Sultan Muhammad dan pasukannya menyeberangkan kapal-kapal mereka lewat jalur darat. 70 kapal laut diseberangkan lewat jalur darat yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar, menebangi pohon-pohonnya dan menyeberangkan kapal-kapal dalam waktu satu malam adalah suatu kemustahilan menurut mereka, akan tetapi itulah yang terjadi.

Peperangan dahsyat pun terjadi, benteng yang tak tersentuh sebagai simbol kekuatan Bizantium itu akhirnya diserang oleh orang-orang yang tidak takut akan kematian. Akhirnya kerajaan besar yang berumur 11 abad itu jatuh ke tangan kaum muslimin. Peperangan besar itu mengakibatkan 265.000 pasukan umat Islam gugur. Pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H bersamaan dengan 29 Mei 1453 M, Sultan al-Ghazi Muhammad berhasil memasuki Kota Konstantinopel. Sejak saat itulah ia dikenal dengan nama Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel.

13. Fatahillah (1490 M – 1552 M)

Fatahillah dilahirkan pada tahun 1490 M di Basem, Pasai, Sumatra Utara dan wafat pada tahun 1570 di Cirebon. Ayahnya bernama Maulana Makhdar Ibrahim bin Maulana Malik Ibrahim yang menjadi ulama penyebar Islam di Pasai. Pada tahun 1521 M, Portugis telah menancapkan pengaruhnya ke Pedir di ujung Sumatera Utara.

Fatahillah merupakan panglima perang Islam di masa kejayaan Kerajaan Demak di bawah pimpinan Sultan Trenggono. Kerajaan Demak ini telah 2 kali menyerang Portugis di Malaka pada tahun 1513 M dan 1521 M dipimpin oleh Pati Unus dengan keduanya mendapatkan kekalahan. Pada 21 Agustus 1522, perjanjian kerja sama antara kaum Katolik Portugis dengan Pajajaran telah ditandatangani. Ini membuat Portugis memungkinkan membuat benteng di wilayah Sunda Kelapa. Pada tahun 1526 M, 6 armada kapal perang Portugis berlayar ke Sunda Kelapa untuk memulai ekspansi di Pulau Jawa.

Sebelum armada Portugis sampai ke Sunda Kelapa, Fatahillah telah berhasil membebaskan Sunda Kelapa dari Pajajaran. Ketika Portugis sampai Sunda Kelapa, Portugis yang mengetahui Sunda Kelapa sudah dikuasai Fatahillah meminta untuk dibangun kerjasama antara Demak dengan Portugis. Kerja sama itu ditolak mentah-mentah oleh Fatahillah. Portugis marah dan mengancam akan membumihanguskan Sunda Kelapa. Namun, gertakan itu tidak ditakuti oleh Fatahillah sehingga pecahlah perang antara Demak yang dipimpin oleh Fatahillah dengan Portugis.

Pasukan darat Katolik Portugis menggunakan senjata pedang, bedil, dan meriam serta berlindung dengan topi baja. Sedangkan, pasukan Islam jalur darat menggunakan senjata tombak, kujang dan pedang, keris dan meriam-meriam. Armada kapal perang Portugis dan Fatahillah menggunakan meriam dan senjata api lainnya.

Allah pun memberikan kemenangan kepada pasukan Islam yang dipimpin oleh Fatahillah. Hingga kini Sunda Kelapa bebas dari Portugis dan berganti nama menjadi Jayakarta yang kemudian menjadi Jakarta.

Di atas adalah 13 panglima Islam terhebat sepanjang sejarah versi Punakawan.net. Semoga kita selalu bisa mengambil hikmah dari kisah-kisah di atas.

Referensi

Abdullah, Rachmad. 2015. Kerajaan Islam Demak. Solo: Al Wafi.

Alwi Alatas. 2012. Nuruddin Mahmud Zanki, Pahlawan Muslim yang Terlupakan [bag. 1]. Ags 9. Accessed Mar 5, 2018. https://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2012/08/09/1202/nuruddin-mahmud-zanki-pahlawan-muslim-yang-terlupakan-bag-1.html.

Bastoni, Hepi Andi. 2011. Kisah Sahabat Nabi: Abu Ubaidah bin Jarrah, Orang Kuat yang Terpercaya. Jun 23. Accessed Mar 5, 2018. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/06/23/ln8ls6-kisah-sahabat-nabi-abu-ubaidah-bin-jarrah-orang-kuat-yang-terpercaya.

Hadi, Nur Fitri. 2014. Biografi Amr bin al-Ash. Mar 10. Accessed Mar 5, 2018. http://kisahmuslim.com/4270-biografi-amr-bin-al-ash.html.

Hadi, NurFitri. 2014. Muhammad al-Fatih, Penakluk Konstantinopel. Mar 18. Accessed Mar 5, 2018. http://kisahmuslim.com/4287-muhammad-al-fatih-penakluk-konstantinopel.html.

Hadi, Nurfitri. 2015. Saad bin Abi Waqqash Pemilik Doa Mustajab. Apr 22. Accessed Mar 6, 2018. http://kisahmuslim.com/5011-saad-bin-abi-waqqash-pemilik-doa-mustajab.html.

Heryana, Aidil. 2013. Al Quthuz, Singa Gurun di Ain Jalut. Feb 21. Accessed Mar 5, 2018. https://www.dakwatuna.com/2013/02/21/28133/al-quthuz-singa-gurun-di-ain-jalut/#ixzz58Xdj9BKp.

Kisahmuslim.com. 2012. Khalid bin Walid ‘Pedang Allah’ yang Tak Terkalahkan (bag. 3 – Selesai). Sep 20. Accessed Mar 5, 2018. http://kisahmuslim.com/2709-khalid-bin-walid-pedang-allah-yang-tak-terkalahkan-bag-3-selesai.html.

Putra, Hannan. 2002. Kisah Sahabat Nabi: Usamah bin Zaid, Panglima Terakhir Rasulullah (1). Jul 11. Accessed Mar 5, 2018. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/07/11/m701se-kisah-sahabat-nabi-usamah-bin-zaid-panglima-terakhir-rasulullah-1.

Wikipedia. 2018. Khalid ibn al-Walid. Jan 21. Accessed Mar 5 , 2018. https://en.wikipedia.org/wiki/Khalid_ibn_al-Walid.

—. 2017. Pengepungan Yerusalem (636-637). Mei 17. Accessed Mar 5, 2018. https://id.wikipedia.org/wiki/Pengepungan_Yerusalem_(636-637).

Wikipedia.com. 2016. https://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Qadisiyyah. Ags 30. Accessed Mar 3, 2018. https://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Qadisiyyah.

—. 2017. Salahuddin Ayyubi. Nov 30. Accessed Mar 5, 2018. https://id.wikipedia.org/wiki/Salahuddin_Ayyubi.

—. 2018. Shirkuh. Jan 17. Accessed Mar 5, 2018. https://en.wikipedia.org/wiki/Shirkuh.

—. n.d. Thariq bin Ziyad. Accessed Mar 6, 2018. https://id.wikipedia.org/wiki/Thariq_bin_Ziyad.

 

 

About Agung AtTambuniy

Ayah 2 anak. Hamba Allah yang ingin beramal jariyah. -Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu-

View all posts by Agung AtTambuniy →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *