3 Orang yang Tidak Terkenal di Bumi Tapi Terkenal di Langit

bumi dan langit

Zaman sekarang, banyak manusia berlomba-lomba untuk menjadi terkenal. Mereka menempuh berbagai macam cara dari yang halal sampai yang haram. Mereka berfikir semakin terkenal manusia maka semakin mudah hidupnya. Padahal tidak semua orang terkenal itu bahagia hidupnya dan bahkan tidak sedikit yang malah melakukan tindakan bunuh diri.

Ada 3 orang shalih yang hidup pada zaman Nabi Muhammad ﷺ dengan nama yang tidak terkenal di Bumi tapi terkenal di langit. Mereka sedikit diketahui kisahnya namun memiliki kemuliaan yang teramat tinggi.

bumi dan langit

Langit dan Bumi

Sumber: ulamasedunia.org

Uwais Al Qarni

Uwais Al Qarni disebutkan dalam Hadits Riwayat Ahmad nomor 15377:

“Telah menceritakan kepada kami Abu Nua’im berkata; telah menceritakan kepada kami Syarik dari Yazid bin Abu Ziyad dari Abdurrahman bin Abu Laila berkata; ada seorang laki-laki dari penduduk Syam berseru pada Perang Shiffin, Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais Al Qarni? Mereka berkata “benar”. (Abdurrahman bin Abu Laila RA) berkata bahwa saya mendengar Rasulullah ﷺ , di antara para tabiin yang terbaik dalah Uwais Al Qarni.

Redaksional dalam hadits itu menyebutkan bahwa Uwais Al Qarni adalah seorang “tabiin” bukan seorang “sahabat”. Hal ini dikarenakan memang Uwais Al Qarni belum pernah bertemu dengan Rasulullah ﷺ meskipun sebenarnya Uwais Al Qarni hidup di masa kerasulan Rasulullah ﷺ.

Uwais Al Qarni adalah seorang yatim yang tinggal di Yaman bersama Ibunya yang sakit. Uwais adalah seorang penggembala domba yang menggembalakan domba ketika siang hari dan menerima upah untuk diberikan kepada ibunya. Uwais juga memberikan sedekah kepada orang yang kesusahan seperti dirinya apabila ada sisa kelebihan upah.

Uwais Al Qarni sangat mencintai Rasulullah ﷺ dan sangat ingin bertemu dengan Rasulullah ﷺ di Madinah. Namun, Uwais terkendala dengan jarak yang jauh serta tanggung jawabnya untuk menjaga ibunya yang sedang sakit. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, sedangkan ia sendiri belum pernah menjumpainya.

Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais Al-Qarni untuk menemui Nabi ﷺ semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad ﷺ dan memandang wajah beliau dari dekat ? Ia rindu mendengar suara Nabi ﷺ kerinduan karena iman. Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah Nabi Muhammad ﷺ.

Akhirnya, kerinduan kepada Nabi ﷺ  yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah ﷺ di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Setelah mendapatkan izin dari ibunya untuk menemui Rasulullah ﷺ di Madinah, maka Uwais segera berangkat. Ia pun berhasil sampai ke depan rumah Rasulullah ﷺ. Diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi SAW. yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi SAW. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi SAW. tetapi Nabi SAW. tidak dapat dijumpainya.

Yaman Madinah

Peta antara Yaman dan Madinah

Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.

Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra. untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.

Peperangan telah usai dan Nabi pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi menanyakan kepada Siti Aisyah r.a., tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais anak yang taat kepada orang ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi, Siti Aisyah r.a. dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah r.a. memang benar ada yang mencari Nabi dan segera pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit itu, kepada sahabatnya, “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khaththab seraya berkata, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Uwais Al Qarni wafat dengan berita wafatnya yang menggemparkan Kota Yaman. Pada akhirnya, Uwais Al Qarni tidak pernah bertemu Rasulullah ﷺ di Madinah namun Insya Allah ia bisa bertemu Rasulullah ﷺ di surga kelak.

Julaibib

 Julaibib merupakan salah seorang Sahabat Rasulullah ﷺ. Ia bukanlah seorang sahabat yang terpandang. Perawakannya kurang bagus dan ia pun termasuk sahabat yang miskin. Silsilah kelurganya pun banyak yang tidak tahu karena dalam berbagai riwayat ia hanya disebut sebagai “Julaibib” tanpa nama keluarganya di belakang.

Karena alasan-alasan di atas, Julaibib sulit untuk mendapatkan istri. Julaibib menceritakan kegundahan hatinya untuk dapat menikah kepada Rasulullah ﷺ sehingga Rasulullah ﷺ pun mencarikan istri untuk Julaibib.

Peristiwa ini diceritakan dalam hadits riwayat Imam Ahmad yang dinukil dalam Tafsir Ibnu Katsir untuk Surat Al Ahzab ayat 36:

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Sabit Al Bannani, dari Anas RA yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ  melamar seorang wanita dari kalangan Ansar kepada ayahnya untuk beliau kawinkan kepada Julaibib. Maka ayah si wanita itu berkata, “Saya akan bermusyawarah dahulu dengan ibunya.” Rasulullah SAW menjawab, “Kalau begitu, silakan.” Maka lelaki itu berangkat menemui istrinya dan menceritakan kepada istrinya tentang lamaran Rasulullah SAW. Istrinya berkata, “Tidak, demi Allah, kalau memang Rasulullah SAW tidak menemukan pasangan lain kecuali Julaibib. Sesungguhnya kita telah menolak lamaran si Fulan bin Fulan sebelum itu.” Tetapi anak perawannya yang ada di balik kain penutup pintu kamarnya mendengar ucapan tersebut. Lalu lelaki itu bermaksud menemui Rasulullah SAW untuk menceritakan hal tersebut, tetapi si anak menghalanginya sambi berkata, “Apakah ayah hendak menolak lamaran yang telah diajukan oleh Rasulullah SAW? Jika beliau SAW rela Julaibib menjadi menantu ayah, maka kawinkanlah dia (denganku).” Sahabat Anas RA mengatakan bahwa sesungguhnya ia melihat istri Julaibib itu benar-benar termasuk wanita yang paling dermawan di Madinah.

Suatu ketika, Rasulullah ﷺ pergi ke medan perang. Perang berakhir dan Allah menganugerahkan kemenangan kepada Rasulullah ﷺ. Untuk memeriksa apakah ada yang meninggal,  Rasulullah bersabda, “Apakah kalian merasa kehilangan seseorang? Mereka menjawab, “Kami kehilangan si Fulan dan kami kehilangan si Anu.” Rasulullah SAW kembali bersabda, “Periksalah, apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka menjawab, “Tidak ada lagi.” Rasulullah SAW bersabda ,”Akan tetapi, saya kehilangan Julaibib.” Rasulullah ﷺ  bersabda, “carilah dia di antara orang-orang yang telah gugur!” Maka mereka mencarinya dan mereka menjumpainya tergeletak mati di samping jenazah tujuh orang (musuh) yang telah dia bunuh, kemudian mereka (musuh) membunuhnya.

Maka  Rasulullah SAW mendatanginya, lalu berdiri di dekat jenazahnya dan bersabda: “Dia telah membunuh 7 orang dan mereka telah membunuhnya. Orang ini termasuk golonganku dan aku termasuk golongannya.” Rasulullah SAW mengucapkan hal itu sebanyak 2 sampai 3 kali. Kemudian Rasulullah SAW meletakkan jenazahnya pada kedua lengannya, lalu menguburkannya. Rasulullah SAW sendiri yang memanggulnya dan meletakkan dalam kubur.

Betapa mulianya Julaibib, ia sangat dicintai oleh Rasulullah SAW. Di saat sahabat yang lain lupa akan keberadaan Julaibib, maka Rasulullah SAW, dengan cintanya, masih ingat Julaibib. Maka Julaibib mungkin tidak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.

Said bin Zaid

 Sa’id bin Zaid merupakan salah satu dari 10 sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga. Dibandingkan dengan 9 sahabat lain yang masuk surga, Kisah Sa’id Bin Zaid sangatlah sedikit.

Sa’id Bin Zaid merupakan putra dari Zaid bin Amr bin Nufail yang hidup sebelum periode kerasulan Rasulullah SAW. Zaid bin Amr merupakan seseorang yang sangat bersemangat dalam mencari agama yang benar karena ia sudah merasa dirisaukan oleh kehidupan Arab Jahiliyah yang penuh dengan kekacauan. Dalam pencarian agama yang benar, Zaid bin Amr berdoa

“Ya Allah, jika Engkau mengharamkanku dari agama lurus ini, maka janganlah anakku, Sa’id, diharamkan pula darinya.”

Zaid bin Amr tidak mengetahui apakah doanya dikabulkan atau tidak karena ia wafat sebelum Rasulullah ﷺ menerima kerasulan. Ketika kisah ini diceritakan kepada nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau pun menceritakan tentang sosok Zaid, “ Sesungguhnya dia akan dibangkitkan pada hari kiamat (nanti) seorang diri sebagai satu umat (yang terpisah).”

Sa’id bin Zaid terlibat langsung dalam keislaman Umar bin Khattab. Sa’id bin Zaid merupakan ipar dari Umar bin Khattab dan berada di rumah istrinya, Fathimah bin Khattab, ketika Umar bin Khattab datang sambil marah karena mendengar berita keislaman Fathimah bin Khattab. Dalam marahnya, Umar bin Khattab menampar Sa’id bin Zaid dan istrinya.

Umar bin Khattab Said bin Zaid

Adegan Umar bin Khattab membanting Said bin Zaid dalam FIlm Omar

Sa’id bin Zaid dikaruniai umur yang panjang. Ia masih hidup ketika Khalifah Marwan dari Bani Umayyah memerintah. Pada masa itu, Sa’id bin Zaid difitnah oleh seorang wanita bernama Arwa binti Umais menuduh Sa’id merampas tanahnya dan menggabungkannya dengan tanah Said. Karena tuduhannya sudah terdengar di seantero kaum Muslimin, Sa’id kemudian berdoa:

Ya Allah, dia menuduhku menzaliminya. Seandainya tuduhannya itu palsu, butakanlah matanya dan ceburkan dia ke sumur yang dipersengketakannya denganku. Buktikanlah kepada kaum Muslimin sejelas-jelasnya bahwa tanah itu adalah hak hamba dan bahwa hamba tidak pernah menzaliminya,” kata Sa’id.

Tidak berapa lama kemudian, terjadi banjir besar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Maka terbukalah tanda batas tanah Sa’id dan tanah Arwa yang mereka perselisihkan. Kaum Muslimin memperoleh bukti, Sa’id-lah yang benar, sedangkan tuduhan wanita itu palsu.

Hanya sebulan sesudah itu, wanita tersebut menjadi buta. Ketika dia berjalan meraba-raba di tanah yang dipersengketakannya, dia pun jatuh ke dalam sumur. Abdullah bin Umar berkata, “Memang, ketika kami masih kanak-kanak, kami mendengar orang berkata bila mengutuk orang lain, ‘Dibutakan Allah kamu seperti Arwa.”

Itulah kisah 3 orang yang tidak terkenal di Bumi tapi terkenal di langit. Tidak perlu kita berusaha mati-matian untuk menjadi terkenal karena tujuan kita sebenarnya dalam hidup adalah untuk beribadah dan hadiah utama dalam beribadah adalah surga. Kisah 3 orang ini mengajarkan kita bahwa untuk beribadah dan mencapai surga tidak perlu terkenal.

Referensi

Al Manhaj. 2013. Julaibib Radhiyallahu Anhu (Ia Memilih Berjihad Dan Merindukan Syahid). Accessed Januari 20, 2018. https://almanhaj.or.id/3797-julaibib-radhiyallahu-anhu-ia-memilih-berjihad-dan-merindukan-syahid.html.

Kisahmuslim.com. 2011. Sa’id bin Zaid radhiallahu ‘anhu. Oktober 5. Accessed Jan 21, 2018. http://kisahmuslim.com/1643-biografi-said-bin-zaid.html.

Pondok Yatim Al Hilal. n.d. Tak terkenal di Bumi, Terkenal di Langit – Uwais al Qarni. Accessed Januari 20, 2018. http://www.pondok-yatim.org/artikel/tak-terkenal-di-bumi-terkenal-di-langit-uwais-al-qarni/.

 

About Agung AtTambuniy

Ayah 2 anak. Hamba Allah yang ingin beramal jariyah. -Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu-

View all posts by Agung AtTambuniy →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *