12 Makna Islami dalam Arsitektur Masjid Gedhe Kauman Keraton Yogyakarta

masjid Gedhe Kauman

Dakwah yang kita kenal biasanya berupa kajian-kajian di masjid, tempat pendidikan ataupun di rumah. Namun, dakwah sebenarnya bisa berbagai macam bentuk seperti sedekah yang kita berikan, senyuman yang kita lemparkan dan berbagai macam bentuk yang lain.

Salah satu bentuk dakwah yang spesial di Indonesia adalah desain arsitektur Masjid Gedhe Kauman di Keraton Yogyakarta. Masjid Gedhe terletak di sebelah barat kompleks Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta. Masjid Gedhe Kauman dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I bersama Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat (penghulu kraton pertama) dan Kyai Wiryokusumo sebagai arsiteknya. Masjid ini dibangun pada hari Ahad Wage, 29 Mei 1773 M atau 6 Robi’ul Akhir 1187 H.

masjid Gedhe Kauman

Tampak Depan Masjid Gedhe Kauman

Sumber : http://www.tuguwisata.com/masjid-gedhe-kauman-jogja/

Pembangunan Masjid Gedhe Kauman ini dihiasi dengan berbagai macam arsitektur yang sarat dengan makna filosofis. Makna-makna tersebut menghiasi dari gapura hingga ukiran di bawah tiang utama masjid.

Berikut adalah 12 makna arsitektur Masjid Gedhe Kauman Keraton Yogyakarta:

  • Gapura

Gapura merupakan pintu gerbang masjid. Pada Masjid Gedhe, bentuk gapura yang diambil adalah Semar Tinandu. Kata “gapura” sebenarnya diambil dari Bahasa Arab “ghafura” yang berarti ampunan dosa, bermakna setiap yang melewati gapura masjid dengan niat baik untuk beribadah maka dosa-dosanya insya Allah akan diampuni oleh Allah.

Gapura Masjid Gedhe Kauman 1920 M

Gapura Masjid Gedhe Kauman 1920 M

Sumber: https://godhongkluwih.wordpress.com/2013/08/07/sejarah-singkat-masjid-gedhe-kauman/

Anwar Bustami mengatakan bahwa gapura hanya diperuntukkan untuk masjid saja. Beliau menuturkan bahwa gapura-gapura yang sering disebut masyarakat dan dipakai di luar masjid sebenarnya bernama “regol”

  • Ukiran buah Waluh pada Cepuri

Cepuri merupakan pagar  (benteng  kecil)  yang letaknya  di  antara  dalam  benteng  dan  gapura. Ukiran buah waluh menghiasi bagian atas setiap cepuri. Buah waluh adalah semacam labu dalam istilah Jawa.

Buah Waluh Masjid Gedhe Kauman

Ukiran Buah Waluh pada pagar Masjid Gedhe Kauman

Hiasan  Waluh  tersebut  sebenarnya adalah  merupakan  seni  patung kaligrafi  yang berbentuk  tulisan  Allah. Gatot  Supriyanto  dan Anwar  Bustami,  dan  Mohammad  Khawari menjelaskan  bahwa pada  awalnya  para  ulama bermaksud  untuk  mengajarkan  kepada masyarakat untuk menyebut kata Wallah, namun karena  kesulitan  untuk  mengucapkan  kata Wallah  maka berubah  menjadi  kata waluh dan untuk  mempermudah  mengingat  akan  kata Wallah  maka  kemudian   dibuatlah  ornamen waluh  tersebut.  Waluh  sebagai  tanda mengajarkan bahwa Masjid adalah rumah Allah.

  • Pohon-pohon Sawo di halaman Masjid

Memasuki halaman Masjid Gedhe Kauman orang akan melihat pohon Sawo (Manilkara zapota) berjajar dimaksudkan untuk mengingatkan, “Sawwuu shufuufakum, luruskan shaff-shaff kalian.

Pohon sawo masjid Gedhe Kauman

Masjid Gedhe Kauman yang dikelilingi Pohon Sawo

Di jalan-jalan keluar Masjid biasanya tertanam pohon Sawo Kecik (Manilkara kauki). Makna tersiratnya adalah “sarwo becik”, serba baik lagi penuh kebaikan seperti tertuntut dari orang yang menunaikan ibadah; ia tercegah dari perbuatan keji dan munkar, menebar salam dan manfaat bagi sesamanya.

  • Tradisi Sekaten pada Pagongan

Di halaman masjid sebelah kiri dan kanan terdapat  bangunan  namanya  Pagongan.  Di Pagongan disimpan Gamelan  Sekaten yang dibunyikan  ketika  peringatan  Nabi  Muhammad ﷺ. Nama Sekaten sendiri berasal dari Bahasa Arab  yaitu Syahadatun yang  artinya  syahadat atau  dua  kalimat  syahadat.

pagongan

Pagongan Masjid Gedhe Kauman

  • Ukiran Wajik pada pintu Masjid

Memasuki ruang serambi, tempat di mana Mahkamah Syari’ah biasanya digelar tampak pintu Masjid diukiri gambar wajik. Ini untuk mengingatkan hakikat pengadilan akhirat yang lebih kuat. “Wajii-a yaumaidzin bijahannam, yaumaidzin yatadzakkarul insaanu wa anna lahudz dzikraa.. Dan pada hari itu didatangkan jahannam. Pada hari itu manusia menjadi ingatlah manusia akan segala perbuatannya, tapi apalah guna ingat di saat terlambat itu.” (QS Al Fajr [89]: 23)

Ukiran Wajik pada pintu masuk masjid

Ukiran Wajik pada pintu masuk Masjid

  • 5 Warna pada serambi masjid

Bangunan  serambi  masjid  ini  berbentuk Limasan  Lambangsari.  Yaitu  adanya  balok penyambung  antara atap  brunjung dengan atap penanggap. Atap  terdiri  dari  4  belah  sisi  yang masing-masing  bersusun  dua  serta  mempunyai satu  bubungan  atau  wuwungan (Sugiyarto Dakung, 1982: 45).

Pada  ruang  ini  terlihat  sangat  mewah berwarna-warni  yang  menurut  Anwar  Bustami adalah  simbolisasi  dari  dunia  yang gemerlap. Warna yang digunakan dalam serambi ini hanya ada lima  yaitu,  kuning  gading,  emas,  merah, hijau,dan  biru.  Warna-warna  tersebut  adalah simbol dari waktu Sholat yaitu biru: isya‟, hijau: subuh, kuning gading: dzuhur, emas: Ashar, dan merah:  magrib. Dan  semua  tiang  pada  ruang serambi mempunyai umpak  (alas) dari batu.

Serambi Masjid

Terdapat  tiang-tiang  penyangga  dengan relief  dan  kaligrafi  tentang  perkembangan  dan kehidupan beragama di tanah Jawa, bahwa pada awalnya  orang  Jawa  memeluk  agama  Hindu yang disimbolkan pada umpak bawah, kemudian profil  di  atasnya  menggambarkan stupa praba (agama Budha), di atasnya lagi terdapat kaligrafi yang berbentuk stilir tumbuhan terbaca tulisan “ Muhammad  Rasulullah”.

  • Ornamen Praba pada tiang serambi

Ornamen Praba yang  terletak  pada  tiang utama  serambi  memiliki  perbedaan  yang  cukup tampak  yaitu  terletak  pada  ukurannya,  hal  ini dikarenakan  ukuran  tiang  utama  yang  sangat besar  dibandingkan  dengan  tiang-tiang penyangga atau tiang yang lainnya pada serambi masjid.

Ornamen Praba Masjid Gedhe Kauman ornamen Praba Masjid Gedhe Kauman Ornamen Praba Masjid Gedhe KaumanOrnamen Praba pada Masjid Gedhe Kauman

Praba mempunyai  makna  bahwa  dalam menjalani  kehidupan  manusia  harus  mampu mengalahkan  berbagai  rintangan   dan mengalahkan  hawa  nafsu  serta  sifat  buruk dan  angkara murka yang ada dalam diri manusia untuk  mencapai  kebahagiaan.

  • Ornamen Mirong pada tiang serambi

Mirong  merupakan  ornamen  yang dibentuk  berdasarkan  kombinasi  garis  lurus  dan garis lengkung yang berada tepat di pertengahan tiang-tiang bangunan. pada penjelasan Mirong di atas,  yang  dimaksud  dengan  kombinasi  garis lurus  dan  garis  lengkung  ialah menggabungkan bentuk-bentuk  garis  horizontal,  garis  vertikal dan  garis  lengkung  atau  garis  gelombang sehingga  membentuk  sebuah  ornamen  yang indah.

ornamen mirong masjid Gedhe Kauman

Ornamen Mirong Masjid Gedhe Kauman

Ornamen mirong   tampak  samping  dan menyatu  denga  ornament sorotan.  Perbatasan Ornamen  Mirong atau Putri  Mirong merupakan ornamen  yang  pada  tiang  bangunan  yang menghadap  keluar  dengan stilisasi  dari  huruf Arab yang berbunyi Muhammad Rasulullah.

  • Ornamen Nanasan pada Tiang Serambi Masjid

Ornamen nanasan ini  berbentuk  seperti buah  nanas  terbalik  yaitu  dengan  ujung menghadap  ke  bawah. Nanasan ini  juga  disebut dengan umah  tawon,  itu  karena  mirip  dengan umah  tawon,  umah  tawon  dalam  Bahasa Indonesianya  adalah  sarang  lebah.  Sedangkan dalam  seni  rupa  Islam  hiasan  ini  mirip  dengan ragam hias muqarnas. balok pinggir tiang utama serambi masjid.

Ornamen Nanasan Masjid Gedhe Kauman

Ornamen nanasan yang mirip sarang lebah ini mengingatkan kita pada salah satu surat Al Qur’an yaitu An Nahl yang berarti lebah.

  • Ornamen Baya pada bagian atas serambi masjid

Ornamen Baya  merupakan Sengakalan memet simbol  yang  dalam  arti  bahasa Indonesia adalah  Buaya.  Buaya  adalah  hewan  buas  melata pemakan  daging  dengan  mulut  yang  besar  dan lebar  jika  terbuka  dan  bergigi  tajam.  Dalam sengkalan memet, buaya digunakan sebagai hiasan interior  tradisional  Jawa,  dengan  istilah  Jawa Bebaya  “Bahaya”  tujuannya  adalah  peringatan akan bahaya. Sebagai seorang Muslim, kita harus betul-betul menjaga dan waspada akan peringatan bahaya.  Bahaya  itu  sendiri  merupakan  bahaya hati  berupa  nafsu dan  sifat  buruk  sangka,  iri  dan riya.

ornamen baya

Ornamen Baya Masjid Gedhe Kauman

  • Ornamen Cakra Manggilingan pada bagian atas tiang utama serambi masjid

Ornamen  Cakra  Manggilingan digambarkan  dengan  berbentuk  cakra  (roda). Peletakan ornamen ini berada di bagian atas tiang penyangga utama Serambi Masjid Gedhe Kraton, Yogyakarta. Makna  pada  roda  sendiri  menurut Anwar  adalah  tentang  kehidupan  yang  seperti perputaran  roda  terkadang  di  atas  dan  di  bawah. Dan pentingnya kita sebagai Muslim untuk selalu ingat  jika  hidup  bagaikan  perputaran  roda,  maka tetaplah  bersyukur  dan  jangan  sombong  bila kehidupan kita saat di posisi atas (berkecukupan) dan  bersyukur  dan  tabah  saat  hidup  kita  ada diposisi bawah (kekurangan).

Ornamen Cakra Manggilingan

Ornamen Cakra Manggilingan

  • Atap tiga susun: ornament Gadha, Daun Kluwih, dan Daun Nanas

Atap Masjid Gedhe Kraton ini berbentuk Tajuk  Lambang  Teplok  yaitu  bangunan  yang mempunyai  atap  bertingkat  3  susun  . Beratap tumpang  tiga  dengan  puncaknya  berbentuk Piramidal  brunjung  yang  memiliki  makna pencapaian  kesempurnaan  hidup  melalui  tiga tahapan  kehidupan  yaitu  Hakikat,  Syariat  dan Ma‟rifat atau  dalam  tujuan  Islamiyahnya  adalah “Iman,  Islam  dan  Ihsan”  yang  artinya Islam adalah  hendaknya  engkau  bersaksi  bahwa  tidak ada  tuhan  selain  Allah  dan  sesungguhnya Muhammad  adalah  Rasul-Nya, engkau mendirikan  solat,  mengelurkan  zakat,  berpuasa ramadhan,  dan  menunaikan  ziarah  haji  ke baitullah  jika  engkau  mampu  menempuh perjalanannya,  iman  adalah  hendaknya  engkau beriman  kepada  Allah,  malaikat-malaikat-Nya, kitb-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman  pula  kepada  ketentuan  (qadar)  baik ataupun  buruk,  dan  Ihsan  berasal  dari  kata hasana yuhsinu, yang artinya adalah berbuat baik seolah Allah selalu melihatmu.

atap masjid gedhe kauman

Atap Masjid Gedhe Kauman

Atap  pada  Masjid  Gedhe  Kraton  Yogyakarta menggunakan  Mustaka  yang  berbentuk  Gadha, Daun Kluwih dan Daun Nanas. Pada celah antara atap  bertumpuk  terdapat  jendela  keliling  yang dapat  memasukan  cahaya  alami.  dalam terminologi jawa, gada adalah senjata pamungkas untuk  mengalahkan  musuh.  Dalam  cerita pewayangan  semua  ksatriya  selalu  bersenjatakan gada  ketika  senjatanya sudah  tidak  berguna  atau rusak.  Gada  yang  berdiri tegak  pada  mustaka Masjid  Gedhe  merupakan  simbolisasi kemahaesaan  atau  Tauhid  yang  merupakan landasan  utama  dalam  ajaran  Islam,  sekaligus mengajarkan bahwa ketika senjata ataupun usaha kita  sudah  mentok  dan  tidak  membuahkan  hasil maka  sudah  saatnya  kita harus  Kembali  pada Allah.

Di sekitar  Gada  terdapat  hiasan  berbentuk “daun  kluwih”. Kluwih merupakan simbol dari kata “linuwih” yang berarti mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Dalam hal ini kata linuwih  mengandung  arti  bahwa  hanya  Allah yang  mempunyai  kekuasaan  untuk  menolong manusia  dari  permasalahannya.  Pada  puncak  di bawah gada terdapat hiasan berupa daun “nanas” berasal  dari  kata  annas  yang  bertarti  manusia, sebagai  simbolisasi  bahwa  orang  yang  linuwih adalah  orang  yang  paling  dekat  dengan  Allah sekaligus  sebagai  simbol  bahwa  orang  yang linuwih  adalah  orang  yang  bisa  menjaga hubungan  antara  manusia  dengan  Allah (hablumminallah)  dan  juga  bisa  menjaga hubungan  manusia  dengan  manusia (Hablumminannas).

Demikianlah makna-makna Islami yang ada pada arsitektur masjid Gedhe Kauman. Kita bisa menarik hikmah bahwa dahulu di Yogyakarta gelora dakwah Islam sangat besar sehingga masuk hingga ke sendi-sendi budaya masyarakat. Begitu mempesonanya jika dakwah disinergikan dengan nilai-nilai keluhuruan setempat.

Simak juga tulisan lain dari Punakawan.net tentang Wayang dalam Islam

Referensi

Dorno, Jeksi. 2014. Bentuk dan Makna Simbolik Ornamen Ukir Pada Interior Masjid Gedhe Yogyakarta. Yogyakarta: Skripsi Universitas Negeri Yogyakarta.

Fillah, Salim A. 2015. TATA KOTA tentang HAKIKAT MANUSIA. Oktober 10. Accessed Desember 30, 2017. https://salimafillah.com/tata-kota-tentang-hakikat-manusia/.

Forum Pecinta Bangunan Kuno. 2015. Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta . Mei. Accessed Desember 30, 2017. http://forumpecintabangunankuno.blogspot.co.id/2015/05/masjid-gedhe-kauman-yogyakarta.html.

Mukti, Galih Retno. 2016. Islamic Aesthetic and Educational Values In The Architecture OF Masjid Gedhe Kraton, Kauman – Yogyakarta. Yogyakarta: E-journal Universitas Negeri Yogyakarta.

 

About Agung AtTambuniy

Ayah 2 anak. Hamba Allah yang ingin beramal jariyah. -Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu-

View all posts by Agung AtTambuniy →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *