Zaid Bin Haritsah : Satu-satunya Nama Sahabat dalam Al Qur’an

Zaid bin Haritsah adalah satu-satu sahabat yang namanya diabadikan dalam Al Qur’an. Firman Allah dalam Surat Al Ahzab ayat 37:

Al Ahzab ayat 37

Dan ingatlah, ketika kamu berkata kepada orang yang telah Allah limpahkan nikmat kepadanya dam kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya. “Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.” Sedangkan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedangkan Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya). Kami kawinkan kamu dengan dia, supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi

Asal Zaid bin Haritsah

Zain bin Haritsah berasal dari suku Bani Mu’in dengan ibu bernama Su’da binti Tsa’labah. Referensi tentang tahun kelahiran Zaid bin Haritsah belumlah ditemukan. Pada masa jahiliyah, ibunya Zaid mengadakan kunjungan ke kampung persukuan anaknya itu, Kampung Bani Mu’in. Namun, secara tiba-tiba sekawanan tentaran berkuda dari Bani Al Qin bin Jusr menyerang perkampungan tersebut dan merampas serta menawan apapun yang berharga. Pada penyerangan itu, Zain bin Haritsah dirampas dan dijadikan budak belian. Zain dibawa ke Pasa Ukazh  dan dijual seharga 400 dirham kepada Hakim bin Hizam bin Khuwailid, untuk bibinya yaitu Siti Khadijah bin Khuwalid yang kelak menjadi istri dari Rasulullah ﷺ.

Setelah Khadijah menikah dengan Nabi Muhammad ﷺ dan sebelum periode kerasulan, Zaid dihadiahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Lama-kelamaan hubungan antara Nabi Muhammad ﷺ dengan Zaid menjadi sangat akrab dan saling menyayangi, walau Zaid berstatus sebagai budak dan Nabi Muhammad ﷺ sebagai tuannya.

Berita tentang Zaid yang berada bersama Nabi ﷺ akhirnya terdengar oleh ayahnya Zaid yang memang sedang mencari anaknya. Setelah bertemu dan mengutarakan apa yang dia inginkan kepada Nabi ﷺ, ia tidak bisa berkata apa-apa selain memberikan keputusan sepenuhnya kepada Zaid: apakah ia akan ikut bersama ayahnya atau Zaid tetap bersama Nabi ﷺ. Zaid ternyata lebih memilih Nabi ﷺ dan semenjak itulah Nabi ﷺ memproklamirkan Zaid sebagai anak angkatnya dengan nama Zain bin Muhammad. Zaid kemudian mendapatkan julukan “Al hibbu” yang berarti kecintaan Rasulullah ﷺ, dan dikatan kepada anaknya julukan nama Al Hibbu ibnu Hibbi, yang artinya orang yang disayangi Rasulullah ﷺ.

Pernikahan Zaid bin Haritsah r.a. dengan Zainab binti Jahsy Al-Asadiyyah r.a.

Rasulullah ﷺ datang ke rumah Zainab binti Jahsy r.a. guna melamar Zainab untuk Zaid. Zainab menolak lamaran ini dengan berkata “Aku tidak mau menikah dengannya.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak, bahkan kamu harus menikah dengannya” Zainab binti Jahsy r.a. berkata “Wahai Rasulullah, apakah engkau mengatur diriku?”

Ketika keduanya sedang berbincang, Allah SWT menurunkan firmannya dalam Al Ahzab ayat 36:

Al Ahzab ayat 36

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. “(Al Ahzab: 36)

Akhirnya Zainab binti Jahsy bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau rela menikahkan dia denganku?” Rasulullah SAW menjawab “Ya” Zainab berkata “Kalau demikian, aku tidak akan menentang perintah Rasulullah SAW. Aku rela dinikahkan dengannya”

Penolakan Zainab untuk dinikahkan kepada Zaid merupakan hal yang sangat manusiawi. Zainab binti Jahsy merupakan perempuan dari keluarga yang terpandang, cantik parasnya, dan merupakan penghulu wanita dalam hal agama, wara’, zuhud, dermawan dan kebaikannya. Sementara Zaid bin Haritsah merupakan bekas budak Rasulullah ﷺ dan tidak berasal dari keluarga yang terpandang. Selain itu, Zainab binti Jahsy sebenarnya menghendaki Rasulullah melamar untuk dirinya sendiri bukan untuk Zaid.

Rasulullah ﷺ kemudian melangsungkan pernikahan keduanya dengan maskawin 10 dinar dan 60 dirham, lalu kain kerudung, milhafah (Kasur), sebuah baju besi dan lima puluh mud kurma. Demikianlah diceritakan dalam Muqatil Ibnu Hayyan.

Lalu Zainab tinggal bersama suaminya selama satu tahun atau lebih dari setahun, lalu terjadilah pertengkaran di antara keduanya (Zaid ibnu Harisah dan Zainab binti Jahsy). Maka, Zaid datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ mengadukan perkaranya. Rasulullah ﷺ  menasihatinya melalui sabdanya:

“Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah” (Tafsir Ibnu Katsir untuk Al Ahzab ayat 37)

Namun, pernikahan antara Zaid bin Haritsah dengan Zainab binti Jahsy ternyata tidak dapat berlangsung lama. Mereka harus berpisah sebagaimana telah disebutkan dalam Al Ahzab ayat 37.

Gambar Ilustrasi Perceraian

Sumber: http://www.ummi-online.com/perceraian-aib-kah.html

Zaid sang Penyabar

Tak lama setelah perceraian Zaid bin Haritsah dengan Zainab binti Jahsy, Rasulullah ﷺ diperintahkan oleh Allah untuk mengawini Zainab binti Jahsy. Zaid bin Haritsah menerimanya dan bahkan menjadi perantara yang memberikan kabar bahwa Rasulullah ﷺ menyebut-nyebut nama mantan istrinya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim ibnul Qasim, telah menceritakan kepada kami An Nadr, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnul Mughirah, dari Sabit, dari Anas r.a. yang menceritakan bahwa setelah iddah Zainab habis, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Zaid ibnu Harisah. “Pergilah kamu dan ceritakanlah kepadanya tentang diriku.” Maka Zainab yang saat itu sedang membuat adonan roti. Ketika aku (Zaid) melihatnya, keadaannya berbeda, sehingga aku tidak kuasa memandangnya. Lalu aku katakan kepadanya bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ menyebut-nyebutnya. Kemudian aku memalingkan punggungku dan berbicara kepadanya dengan membalikkan tubuh.” Hai Zainab, bergembiralah, Rasulullah ﷺ  telah mengutusku untuk menyampaikan kepadamu bahwa beliau menyebut-nyebutmu.” Zainab menjawab, “Aku tidak akan melakukan suatu tindakan apapun sebelum beristikharah kepada Tuhanku.” Zainab kemudian bangkit menuju ke masjid, lalu turunlah Al Ahzab ayat 37 dan Rasulullah ﷺ langsung masuk menemuinya tanpa izin. Sesungguhnya saya menyaksikan peristiwa itu saat saya masuk ke dalam rumah Rasulullah ﷺ. Beliau menjamu kami roti dan daging sebagai walimah perkawinannya dengan Zainab.

Zaid bin Haritsah sangatlah sabar dalam menjalani ujian perasaan ini. Namun, Allah ternyata punya skenario yang lebih baik dibalik kesabaran yang telah dilakukan oleh Zaid. Nama Zaid dimasukkan dalam Al Qur’an dan menjadi satu-satunya sahabat yang namanya diabadikan di dalam Al Qur’an. Allah memberikan pahala kepada siapapun yang membaca nama Zaid di dalam Al Qur’an. Sungguh keutamaan yang sangat besar diberikan Allah kepada Zaid.

Gambar Al Qur’an

Sumber: Islamidia.com

Allah juga menganugerahkan Ummu Aiman sebagai pengganti Zainab binti Jahsy. Ummu Aiman merupakan pengasuh Rasulullah ﷺ yang usianya terpaut jauh dari Zaid binti Haritsah. Namun, kedua orang yang sangat dekat dengan Rasulullah ﷺ tetap menikah dan Allah kemudian menganugerahkan kepada keduanya Usamah bin Zaid yang sangat disayangi oleh Rasulullah ﷺ. Kelak, Usamah bin Zaid akan menjadi Panglima Perang melawan Romawi ketika ia berumur  kurang dari 20 tahun dan berhasil menaklukan Romawi dengan kemenangan yang gemilang.

ilustrasi perang islam

Ilustrasi Perang Islam

Sumber: https://nabilmufti.wordpress.com/2010/03/24/perang-yarmuk-takluknya-kerajaan-romawi-dibawah-pasukan-islam/

Kisah Zaid bin Haritsah di dalam Al Qur’an juga menghasilkan hukum bahwa ada perbedaan antara anak angkat dengan anak kandung. Rasulullah ﷺ diperintahkan oleh Allah untuk menikahi mantan istri anak angkatnya di mana hukum Islam tidak memperbolehkan untuk menikahi mantan istri anak kandung.

Maha Suci Allah yang telah memberikan skenario-skenario terbaik untuk hambanya. Ada kelapangan di balik kesempitan ujian hidup yang kita dapatkan. Maka, kita hendaknya selalu berprasangka baik terhadap segala ketentuan Allah seperti Zaid bin Haritsah.

Referensi

Isra, Yunan. 2016. “Zaid bin Haritsah: Sahabat Nabi yang Diabadikan dalam al-Qur’an.” MuslimediaNews. Mar 1. Accessed Dec 14, 2017. http://www.muslimedianews.com/2016/03/zaid-bin-haritsah-sahabat-nabi-yang.html.

Jauhary, Rafiq. 2014. “Rafiq Jauhary.” Usamah bin Zaid: Panglima Perang Berusia 18 Tahun. Juli 2. Accessed Desember 14, 2017. https://rafiqjauhary.com/2014/07/02/usamah-bin-zaid-panglima-perang-berusia-18-tahun/.

Mustajab, Athirah. 2013. “Ummu Aiman Radhiyallahu ‘Anha.” Muslimah.or.id. Dec 14. Accessed Dec 14, 2017. https://muslimah.or.id/4799-ummu-aiman-radhiyallahu-anha.html.

Putra, Hanan. 25. “Zaid bin Haritsah, Sang Pencinta Rasulullah (3).” Republika.co.id. July 25. Accessed Dec 14, 2017. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/07/25/m7q2ut-zaid-bin-haritsah-sang-pencinta-rasulullah-3.

Ibnu Katsir, Abul Fida Isma’il. 2016. Tafsir Ibnu Katsir.

 

 

About Agung AtTambuniy

Ayah 2 anak. Hamba Allah yang ingin beramal jariyah. -Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu-

View all posts by Agung AtTambuniy →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *