Kisah Asiyah Sang Wanita Tetangga Allah di Surga

Asiyah binti Muzahim adalah salah satu dari 4 wanita utama dalam Islam yang telah disampaikan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadits-hadits:

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Abul Furat, dari Alba, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Rasulullah ﷺ membuat suatu garis di tanah sebanyak empat garis, lalu bertanya, “Tahukah kalian apakah ini?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. “Rasulullah ﷺ bersabda: (ini menggambarkan) wanita-wanita ahli surga yang paling utama. (yaitu) Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim bekas istri Fir’aun.”

Telah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui hadits Syu’bah, dari Amr ibnu Murrah, dari Murrah Al Hamdani, dari Abu Musa Al Asy’ari, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:

“Banyak dari kaum lelaki yang mencapai kesempurnaan, tetapi tiada yang mencapai kesempurnaan dari kaum wanita selain Asiyah binti Muzahim bekas istri Fir’aun, Maryam binti Imran, dan Khadijah binti Khuwalid. Dan sesungguhnya keutamaan Asiyah di atas kaum wanita sama dengan keutamaan makanan Sarid di atas makanan lainnya”

Asiyah pelindung Musa AS

Semenjak Musa AS bayi, Asiyah telah menjadi pelindung Musa AS. Ketika bayi Nabi Musa AS ditemukan oleh dayang-dayang Fir’aun di pinggir sungai Nil, bayi Musa AS diserahkan kepada Asiyah. Ia melihat bayi Musa AS sebagai bayi laki-laki yang sangat tampan, lucu serta bercahaya, dan Allah menjatuhkan rasa cinta ke dalam hati istri Fir’aun terhadap Musa saat memandangnya.

Tepian sungai nil

Gambar Tepian Sungai Nil

Sumber : http://www.bacaanmadani.com/2017/04/kisah-keajaiban-surat-khusus-khalifah.html

Ketika Fir’aun melihat bayi Musa AS, hampir saja Fir’aun membunuhnya karena merasa takut bahwa bayi itu dari kalangan kaum Bani Israil yang kelak akan menggulingkan kekuasaannya. Namun, Asiyah menentangnya dan melindungi bayi itu serta meminta kepadanya agar mengasihaninya.

Asiyah binti Muzahim mengatakan, seperti yang ada di surat Al Qashash ayat 9:

 

Ia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu” (Al Qashash: 9)

Fir’aun menjawabnya, “Itu adalah bagimu, tetapi bagiku tidak.” Kelak Asiyah akan mendapatkan petunjuk melalui Musa AS dan Fir’aun akan mendapatkan kebinasaan melalui Musa AS.

Ustadz Abi Makki dalam tausiyahnya di https://www.youtube.com/watch?v=N0Sh3re-tXI menyebutkan bahwa suatu hari Nabi Musa menarik jenggot Fir’aun hingga membuat Fir’aun hampir jatuh ke tanah dan marah. Hamman, cendekiawan Fir’aun, kemudian mengingatkan Fir’aun akan kisah Bani Israil yang berisi bahwa Fir’aun akan dijatuhkan dengan cara disungkurkan ke tanah. Fir’aun kemudian menerima pendapat itu dan yakin bahwa Musa AS yang akan menjatuhkannya kelas. Fir’aun langsung memerintahkan pengawalnya untuk membunuh Nabi Musa AS.

Berita rencana pembunuhan bayi Nabi Musa AS oleh Fir’aun sampai ke telinga Asiyah. Ia pun sekali lagi mampu menolong bayi Nabi Musa AS. Asiyah meminta Fir’aun untuk menguji apakah Musa AS benar-benar masih bayi atau sudah dewasa, jika masih bayi maka apa yang diperbuat Musa ke Fir’aun seharusnya tidak menjadi masalah, namun jika sudah dewasa maka Musa berbahaya dan harus dibunuh.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa bayi Nabi Musa AS disuguhkan kepadanya buah kurma yang merah dan bara api. Ternyata, Musa lebih memilih bara api dan memasukkan bara api ke mulut. Selamatlah Nabi Musa dari pembunuhan Fir’aun meskipun pada akhirnya bara api tersebut membuat Nabi Musa AS kurang fasih.

Kelak ketika Nabi Musa pergi meninggalkan istana ke Madyan. Asiyah merasakan kerinduan luar biasa kepada Nabi Musa di setiap malam. Hal ini membuktikan bahwa Asiyah sangat sayang terhadap Nabi Musa AS.

Keimanan Asiyah dari Istri bendahara Fir’aun

Abu Ja’far Ar-Razi telah meriwayatkan dari Ar Rabi’ Ibnu Anas, dari Abul Aliyah yang mengatakan bahwa imannya istri Fir’aun melalui iman istri bendahara Fir’aun. Kisahnya bermula ketika istri bendahara Fir’aun duduk menyisiri rambut anak perempuan Fir’aun, lalu sisir yang digunakannya terjatuh, dan ia berkata, “Celakalah orang yang kafir kepada Allah.” Maka anak perempuan Fir’aun bertanya kepadanya, “Apakah engkau punya tuhan selain ayahku?” Ia menjawab, “Tuhanku, Tuhan ayahmu, dan Tuhan segala sesuatu adalah Allah.” Maka anak perempuan Fir’aun menamparnya dan memukulnya, lalu ia melaporkan hal itu kepada ayahnya.

Gambar Piramida Mesir

Sumber: http://www.history.com/topics/ancient-history/the-egyptian-pyramids

Fir’aun memerintahkan agar istri bendahara ditangkap, lalu ia menanyainya, “Apakah engkau menyembah Tuhan selain aku?” Istri bendahara menjawab, “Ya. Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan segala sesuatu adalah Allah, dan hanya kepada-Nya aku menyembah.”

Fir’aun pun memulai siksaannya kepada istri bendahara Fir’aun tersebut. Fir’aun mengikatnya pada pasak serta melepaskan ular-ular berbisa untuk mengerumuninya. Fir’aun juga mengambil kedua anak laki-laki dari istri bendahara dan membunuhnya satu per satu di hadapannya. Namun, kesemua itu tidak menggoyahkan keyakinan istri bendahara Fir’aun kepada Allah.

Setelah roh anak kedua istri bendahara Fir’aun dicabut oleh Allah, roh anak tersebut menyampaikan berita gembira kepada ibunya seraya berkata, “Hai Ibu, bersabarlah, karena sesungguhnya bagimu di sisi Allah ada pahala yang besar sekali.” Percakap roh anak kedua bendahara Fir’aun dengan ibunya itulah yang mengantarkan Asiyah kepada keimanan terhadap Allah.

Asiyah dibunuh Fir’aun

Allah menampakan keimanan Asiyah kepada Fir’aun. Maka Fir’aun berkata kepada para pemimpin kaumnya, “Bagaimanakah pengetahuan kalian tentang Asiyah binti Muzahim?” Ternyata mereka memuji Asiyah. Maka Fir’aun berkata kepada mereka, “Sesungguhnya dia sekarang menyembah selainku.” Mereka berkata kepada Fir’aun, “Kalau begitu, bunuh saja dia.”

Fir’aun kemudian memerintahkan pengikutnya untuk membuat “dzil autad” (pasak-pasak) seperti difirmankan oleh Allah pada Surat Al Fajr ayat 10:

Al Fajr ayat 10

“dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak” ( Al Fajr: 10)

Pengikut Fir’aun mengikat kedua tangan dan kaki Asiyah kepada masing-masing pasak dan disiksa di bawah terik matahari. Apabila Fir’aun beranjak meninggalkannya, maka para malaikat menaunginya dengan sayap mereka, dan tersebutlah bahwa dalam siksaan yang dialaminya itu ia dapat melihat rumahnya di dalam surga.

Asiyah sempat bertanya kepada pengikut Fir’aun tentang pertandingan antara Nabi Musa dengan Fir’aun (adu sihir Fir’aun dengan mu’jizat Allah melalui Nabi Musa). Asiyah bertanya “Siapakah yang menang?” Maka dikatakan kepadanya, “Yang menang adalah Musa dan Harun.” Lalu ia berkata, “Aku berimana kepada Tuhannya Musa dan Harun.”

Fir’aun kemudian memerintahkan kepada pengikutnya, “Carilah batu besar oleh kalian yang kalian jumpai. Jika dia tetap pada pendiriannya, lemparkanlah batu besar itu kepadanya. Dan jika ia mencabut kembali ucapannya, maka dia tetap menjadi istriku.”

Ketika pengikut Fir’aun mendatanginya, Asiyah mengarahkan pandangannya ke langit dan dapat melihat calon tempat tinggalnya di surga, maka ia tetap teguh memegang pendapatnya. Kemudian roh dicabut dari jasadnya dan Asiyah meninggal dengan tenang, lalu batu besar itu ditimpakan di atas tubuhnya yang sudah tidak bernyawa lagi.

Sebelum meninggal Asiyah berdoa kepada Allah yang diabadikan oleh Allah dalam Surat At Tahrim ayat 11:

Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga (At Tahrim: 11)

Asiyah sangat cerdas, ia memilih tetangganya dulu di surga sebelum memilih rumah dan sebaik-baiknya tetangga di surga adalah Allah Tuhan Semesta Alam.

Pelajaran yang bisa diambil

Seorang perempuan, meskipun suaminya berbuat kejam dan tidak ada yang sekejam Fir’aun, masih tetap memiliki peluang ke surga bahkan sampai derajat ke yang paling tinggi. Kita pun harus yakin akan janji dari Allah yang pasti akan dipenuhi oleh Allah serta harus bersabar atas segala cobaan Allah agar kita mendapatkan tempat kembali yang terbaik.

 

Referensi:

Ibnu Katsir, Abul Fida Isma’il. 2016. Tafsir Ibnu Katsir

Ceramah Abi Makki, Kisah Asiah dan Masithoh, https://www.youtube.com/watch?v=6AKqK0C5nJg&t=3443s

About Agung AtTambuniy

Ayah 2 anak. Hamba Allah yang ingin beramal jariyah. -Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu-

View all posts by Agung AtTambuniy →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *