Jin Bun: Sultan Demak & Raja Islam Pertama di Jawa

Masjid Agung Demak

Jin Bun merupakan seorang bangsawan yang berdarah Jawa dan China. Nama Jin Bun berarti “orang kuat”. Oleh Arya Palembang (Sapu Talang) beliau diberi nama Hasan, ibunya memberi nama Yusuf dan ayahnya, Brawijoyo V, memberikan nama Probo untuk Putra ke-13 ini. Jin Bun lahir pada tahun 1448 di Palembang dan wafat pada tahun 1518 M di Demak Bintoro pada usia 70 tahun.

raden patah jin bun

Lukisan diri Jin Bun

Credit: https://teambulls.wordpress.com/2010/08/16/babad-tanah-jawi-raden-fatah-penakluk-majapahit/

Beberapa pendapat menyebar terkait dengan silsilah keturunan dari Jin Bun. Ada pendapat dari Babad Tanah Jawa yang menyatkan bahwa Jin Bun merupakan anak dari Brawijoyo V yang menikahi putri Campha. Pendapat lain mengatakan bahwa Jin Bun lahir dari pasangan Bhre Kertobhumi yang berdarah Jawa dan putri berdarah China yang bernama Li Ang. Ada lagi yang berpendapat bahwa putri yang menikah dengan Bhre Kertobhumi adalah Siu Ban Cie.

Jin Bun Murid Sunan Ampel

Pada tahun 1474 M, Jin Bun berangkat dari Palembang menuju ke Ampel denta (Surabaya) untuk belajar Islam kepada Sunan Ampel. Sebelum sampai ke Ampel denta, Jin Bun dan saudaranya, Kin San, tinggal di Semarang. Keduanya mendatangi satu masjid di perkampungan Tionghoa, ternyata masjid itu telah beralih fungsi menjadi kelenteng Sam Poo Kong. Masjid ini pernah dikunjungi oleh Cheng Ho tahun 1413 M. Jin Bun lalu berdoa kepada Allah agar suatu saat nanti membangun masjid yang tidak akan berubah fungsi menjadi kelenteng.

Jin Bun melanjutkan perjalanan menuju Ampeldenta untuk belajar Islam kepada Sunan Ampel. Sedangkan Kin San menuju Majapahit. Selama menjadi murid Sunan Ampel, Jin Bun dinikahkan dengan Nyai Ageng Malaka, cucu Sunan Ampel. Jin Bun meminta petunjuk kepada Sunan Ampel di mana dia harus bertempat tinggal. Sunan Ampel memerintahkannya untuk berjalan lurus ke arah barat, masuk ke hutan luas hingga menemukan pada penuh ilalalng yang harum baunya. Hutan itu bernama Glagah Wangi di daerah Bintoro.

Pesan Sunan Ampel kepada Jin Bun, “Pergilah ke arah barat. Jika kamu dapati hutan penuh ilalang yang berbabu harum, maka tinggallah di sana. Sebarkanlah ajaran Islam. Siapa tau kelak akan menjadi kota besar. Jadilah seorang penguasa.” Tidak lama kemudian orang-orang mulai berdatangan ikut bermukim di situ, membabat hutan dan mendirikan masjid. Lambat lau semakin banyak orang yang datang dan berguru kepada Jin Bun.

Prabu Brawijoyo V mendengar berita bahwa ada seseorang yang berasal dari pedukuhan Bintoro kesaktiannya terkenal di mana-mana. Raja memanggil para Menteri untuk menanyakan kabar itu. Kin San yang telah menjadi Adipati di Terung menjawab, “Memang benar adanya, yang tinggal di sana itu saudara tuaku.” Sang Prabu lalu memerintahkan untuk memanggilnya. Kin San berangkat bersama 10.000 prajurit.

Jin Bun lalu segera berangkat menemui Brawijoyo V di Majapahit diiringi oleh Kin San. Setibanya di depan Brawijoyo V, Sang Raja sangat terkejut karena wajah Jin Bun sangat mirip dengannya. Lalu dia diakuinya sebagai putra dan diangkat menjadi adipati Bintoro. Sang Prabu berpesan jika pedukuhannya kelak menjadi kerajaan, berilah nama Demak. Jin Bun kemudian kembali ke Demak dan dibekali 1 laksa Abdi, gajah, kapal, tandu dan pedati.

Jin Bun Meneruskan Majapahit

Atas permintaan Sunan Ampel, Bhre Kertabhumi mengangkat Jin Bun sebagai Adipati Demak Bintoro. Pada awalnya, Jin Bun menolak pengangkatan itu karena Jin Bun lebih senang membina pesantren yang santrinya sudah mencapai 2000 orang. Atas nasihat Sunan Ampel, Jin Bun ditekankan tentang pentingnya kekuasaan Islam (siyasah syar’iyah) yang menyatukan para pimpinan dan ulama (al-umara wa ulama) dalam rangka ibadah untuk mempercepat perluasan Islam, maka Sultan Fattah yang pada saat itu berusia 29 tahun bersedia menerimanya.

Bhre Kertobhumi kemudian mengangkatnya sebagai adipati Anom Notoprojo Bintoro pada tahun 1477 M dan diberi tanah perdikan (merdeka, bebas pajak) yang wilayahnya meliputi Ampeldenta, Madura, Gresik, dan Tuban. Semua ini atas prestasi Jin Bun dalam mengembangkan Demak. Upacara khusus kemudian dihelat dengan penyerahan secara simbolis dampar kencono dan menugaskan 5 punggawa kerajaan Majapahit. Tugasnya adalah membantu penataan pemerintahan Kadipaten Demak Bintoro. Para punggawa itu adalah Brojo Dento, Singoyudho, Gembolo Geni, Brojo Nolo dan Bogo Dento.

Pada tahun 1478 M, Girindro Wardhono, putra dan Prabhu Pandan Salas pendiri Kerajaan Keling, merebut Majapahit dari Bhre Kertabhumi. Saat itu, Kadipaten Demak Bintoro telah melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Peristiwa ini ditandai dengan condro sengkolo sirno ilang kertoning bumi. Setelah itu, Girindro Wardhono mengangkat dirinya sebagai raja Majapahit dengan gelar Brawijaya VI.

Gelar politis “Brawijaya VI” bertujuan agar rakyat dan keluarga Brawijaya IV tunduk dan tidak melakukan balas dendam terhadapnya. Ambisi Girindro Wardhono tidak sepenuhnya berhasil sebagaimana yang dia harapkan. Banyak adipati yang menolak Girindro Wardhono dan menganggapnya sebagai pemberontak karena Girindro Wardhono berasal dari trah Jayakatwang, raja terakhir Singosari, sedangkan Brawijaya IV keturunan Wijaya, raja pertama pendiri Majapahit. Kadipaten yang melepaskan diri sebagian besar berada di pesisir utara Jawa, seperti Ampeldenta, Gresik, Tuban, Rembang, Jepara, Kudus, dan Demak Bintoro.

Jin Bun mendengar bahwa ayahnya, Bhre Kertabhumi, telah dikalahkan oleh Girindro Wardhono dan pada saat itu tidak diketahui lagi nasib ayah Jin Bun. Maka, Jin Bun segera mempersiapkan kekuatan untuk membalas menyerang Girindro Wardhono. Jin Bun memimping pasukannya sendiri sebagai Senopati Manggolo  Yudho (panglima perang tertinggi). Ikut serta di dalamnya para wali seperti Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Drajat, serta Pangeran Cirebon.

Serangan pertama dari Demak yang mendadak ini benar-benar menyulitkan Girindro Wardhono. Belum lagi banyak daerah di sekitar Trowulan telah menjadi basis Islam yang kuat. Di antaranya adalah Mojoagung, Sedayu, Lirboyo (Pare), Tarik, Terung, Ampeldenta dan Giri (Gresik).

Serangan pertama Demak ini berhasil dipatahkan justru oleh Kin San, adik seibu Jin bun, yang berada di pihak Girindro Wardhono. Pasukan yang dipimpin Kin San lebih banyak daripada pasukan Jin Bun. Pasukan Jin Bun dihadang di Trowulan dan semakin terdesak dengan korban yang berjatuhan.

Sebelum melakukan penyerangan kedua, Jin Bun mendegar berita dari Empu Supa bahwa Prabu Brawijoyo V masih hidup dan bersembunyi di lereng Gunung Lawu. Brawijoyo V ingin bertemu dengan Jin Bun beserta para wali. Brawijoyo V ingin masuk Islam dan menyerahkan pusaka Majapahit, termasuk Kyai Pleret serta barang-barang berharga lainnya kepada Jin Bun. Tujuannya agar Jin Bun dengan dukungan Wali Songo mendirikan Kerajaan Islam Demak sebagai penerus Majapahit.

Dengan didampingi oleh Sunan Giri, Sunan Kalijogo dan Empu Supa. Jin Bun menemui Prabu Brawijoyo V di Gunung Lawu. Setelah Brawijoyo V menyerahkan pusaka disertai pesan berharga, beliau menghendaki masuk Islam dan memohon kepada Sunan Kalijogo yang menuntun persaksiannya masuk Islam. Brawijoyo V selanjutnya diberi nama baru Darmo Kusumo.

Tidak lama setelah Brawijoyo V masuk Islam, persembunyiannya diketauhi oleh Girindro Wardhono. Ia mengirim prajurit untuk menumpas keluarga Brawijoyo V dan pengikutnya. Nafsu angkara Girindro Wardhono semakin menyala setelah berhasil membunuh Brawijoyo V . Jin Bun kemudian menyadari bahwa cepat atau lambat akan terjadi pertempuran antara sisa Pasukan Majapahit dengan Demak Bintoro.

Serangan Kedua: Pembebasan Tanah Jawa

Pada tahun 1481 M, pasukan gabungan dengan jumlah yang besar siap menyerang, Strategi yang digunakan adalah supit urang, yaitu mengepung kekuatan musuh dari berbagai penjuru. Ja’far Shadiq (Sunan Kudus) diangkat sebagai Senopati Manggolo Yudho (panglima tertinggi). Beliau bersenjata keris yang bernama Ciptoko atau Cintoko dan memiliki 2 panji yang berwarna hijau. Para wali yang turut serta dalam upaya pembebasan ini adalah Sunan Mejagung, Sunan Giri, dan Sunan Gunung Jati.

Jumlah seluruh prajurit mencapai 9100 prajurit yang terdiri dari 40 prajurit dari Campha, 7 prajurit dari Mejagung, 40 santri Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), 7 prajurit dari Gunung Srandil, Maulana Maghribi membantu dengan mengirimkan 7 prajurit dari Andalusia yang sudah berpengalaman, Sunan Kalijogo membantu 40 prajurit, 7 prajurit dari Malaka, 40 prajurit dari Pasai, 40 prajurit dari Ponorogo, 40 prajurit dari Aceh, 7 prajurit dari Sukadana, dan dari Demak sendiri 8000 prajurit ditambah juga dari beberapa daerah lain. Senjata yang digunakan adalah pedang , keris, serta panah api yang dibawa oleh kesatuan Surogeni yang bermaskas di Sorogenen.

Pasukan Girindro Wardhono menyambutnya dengan bergerak ke pantai utara. Penduduk sekitar yang mendengar kedatangannya banyak yang mengungsi ke Demak. Mayoritas mereka adalah umat Islam. Sunan Kudus sebagai senopati bersiasat menyerang terlebih dahulu sebelum pasukan musuh sampai ke Demak.

Sebelum prajurit diberangkatkan, Sunan Kudus memerintahkan agar ditunaikan shalat jamaah terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan berdoa untuk memohon kemenangan kepada Allah. Setelah itu mereka bergerak mendekati musuh. Tiada hentinya dikumandangkan takbir serta shalawat yang menggetarkan jiwa dan mengorbankan semangat jihad.

Sunan Kalijogo memiliki strategi perang untuk memencar pasukan dalam malam hari serta membentuk kelompok-kelompok kecil agar terkesan berjumlah banyak. Setiap kelompok diperintahkan untuk membuat api unggun dengan begitu jumlah prajurit yang hendak menyerbu terkesan amat banyak sehingga membuat prajurit Girindro Wardhono gentar.

Pecahlah pertempuran yang dahsyat antara para pejuang Islam dengan Pasukan Girindro Wardhono. Pasukan musuh gentar melihat pasukan Jin Bun yang terkesan sangat banyak sehingga mereka bergegas melarikan diri. Akan tetapi, korban yang berjatuhan dari pihak musuh tidak dapat dihindarkan, darah merah tertumpah, sayatan luka menganga hingga nyawa meregang hilang tidak kembali untuk selamanya. Meskipun demikian, masih ada pasukan musuh yang mampu melarikan diri dari peperangan. Sunan Kudus memberi komando agar mereka yang lari ke arah timur dikejar. Ketika pengejaran sampai di Trowulan, kota tersebut telah dikosongkan sehingga dengan leluasa pasukan Demak mengumpulkan semua pusaka Majapahit lalu memboyongnya ke Demak sebagai harta rampasan perang.

Melihat prajuritnya melarikan diri dari medan pertempuran dan tidak mungkin memenangkan peperangan, akhirnya Girindro Wardhono menyerah dan menjadi tawanan. Namun, Kin San (Adipati Terung) berhasil melarikan diri. Girindro Wardhono yang akhirnya dimaafkan dan dibebaskan. Bahkan dia diangkat lagi sebagai penguasa Majapahit, tetapi harus tunduk kepada Demak. Langkah yang diambil Jin Bun membuat takjub berbagai kalangan karena dengan kebesaran jiwanya dia memaafkan Girindro Wardhono, pembunuh ayahnya.

Kin San (Adipati Terung) belum mau bertaubat dan menyerah. Jin Bun beberapa kali mengirim utusan ke Kadipaten Terung untuk membujuknya namun tidak berhasil. Akhirnya diutuslah Ja’far Shadiq (Sunan Kudus) untuk meyakinkan Kin San bahwa Jin Bun selaku kakaknya tidak menaruh dendam, apalagi dia didampingi Wali Songo dalam mengambil keputusan. Akhirnya Kin San mau bertaubat lalu bersedia bergabung dengan Demak. Untuk menebus kesalahannya, Kin San menyerahkan harta kekayaannya yang berupa emas batangan. Peristiwa kekalahan Girindro Wardhono dan Adipati Terung oleh Demak ditandai dengan condro sengkolo geni mati siniram janmi yang menunjukkan tahun 1481 M yang diibaratkan matinya kobaran api angkara Girindro Wardhono karena siraman air oleh Demak Bintoro.

Lima puluh hari setelah runtuhnya, Majapahit yang bertepat dengan tanggal 10 dzulhijjah, anggota Wali Songo sebagai ahlul halli wal aqdi mengadakan musyawarah (Muharram 860 H). Bertindak selaku pemimpin musyawarah adalah Raden Paku (Sunan Giri) kemudian memutuskan bahwa untuk sementara waktu, pemerintahan Majapahit diserahkan kepada Sunan Giri dengan menyandang gelar Prabu Satmoto. Penetapan ini terjadi pada bulan Shaffar 1482 M berlaku selama 40 hari. Tujuannya untuk memusnahkan segala bentuk kekafiran dan kesyirikan di bekas Keraton Majapahit.

Setelah genap 40 hari berlalu dan memasuki bulan Muharram (Suro), dihelat upacara penetapan pemegang kekuasaan tertinggi di tanah Jawa dengan pusatnya Kadipaten Demak Bintoro. Wali Songo di bawah pimpinan Sunan Giri menobatkan Jin Bun sebagai Raja Islam pertama di Kerajaan Islam Demak Bintoro pada tanggal 12 Rabi’ul awal tahun 860 H atau 1482 M pada usia 34 tahun. Di hari yang sama, Kerajaan Islam Demak berdiri dengan syariat Islam sebagai dasarnya. Undang-undang yang diberlakukan bernama Angger Suryo Alam dan Salokantoro.

Masjid Agung Demak

Gambar Masjid Agung Demak

Credit: http://www.idsejarah.net/2016/07/sejarah-masjid-agung-demak.html

Jin Bun adalah Raden Fatah

Jin Bun sebagai raja Islam pertama tanah Jawa memiliki gelar Senopati Jumbun Ningrat Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panotogom atau Sultan Syah Alam Akbar Al Fattah. Gelarnya yang lengkap adalah Sultan Fattah Syekh Alam Akbar Panembahan Jimbun Abdurrohman Sayyidin Panotogomo Sirulloh Khalifatulloh Amiril Mukminin Hajjudin Hamid Khan Abdul Fattah Suryo Alam. Oleh masyarakat Jawa beliau lebih dikenal dengan nama Raden Fatah. Dari gelar tersebut dapat dimengerti bahwa beliau memegang peranan sebagai panglima perang (senopati) yang kuat (jimbun), hamba Allah Yang Maha Pemurah (Abdurrahman) yang lahir di Palembang dan memiliki cita-cita untuk menjaga dan melindungi aturan Islam (Panotogomo). Beliau diibaratkan seperti matahari yang bersinar di seluruh alam dan pemimpin orang yang beriman (Amirul Mukminin) sebagai khalifah yang terpuji. Peristiwa ini diabadikan dengan condro sengkolo warno sirno catur nabi yang berarti penobatan Sultan Fattah yang disaksikan oleh para ulama, menggolo Yudho, prajurit, abdi dalem, dan lain-lain dilaksanakan pada malam peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ.

Jin Bun Raden Fatah

Gambar ilustrasi Raden Fatah

Credit: https://merahputih.com/post/read/rekam-jejak-jin-bun-raja-islam-berdarah-tionghoa

Raden Fatah sebagai raja pertama di kerajaan Islam Demak Bintoro secara de jure ini diperkuat dengan adanya pusat kekuasaan di Kediri, Terung (Sidoarjo), Suroboyo, Tumapel (Malang), Lumajang, Tuban, Lasem, Giri, Wengker (Ponorogo), Kahuripan, Blitar, Pengging (Madiun), Sengguruh (Kepanjen, Kabupaten Malang) setelah sebelumnya di bawah kekuasaan Bhre Kertobhumi Brawijoyo V. Terlebih lagi dengan tunduknya kadipaten-kadipaten di daerah lain seperti Semarang, Pekalongan, Tegal dan Cirebon.

Hikmah

Bersama dengan Jin Bun (Raden Fatah) terhimpun kebaikan-kebaikan. Dia seorang pendiri Demak sekaligu penerus Majapahit, dia keturunan Tionghoa sekaligus Jawa, dia seorang ulama dan pemimpin politik, dia seorang panglima perang sekaligus pemberi amnesti. Kisahnya ini layak bagi kita untuk kita ambil pelajaran.

Kita juga bisa mengambil pelajaran bahwa da’wah yang dilakukan oleh pendahulu kita adalah da’wah yang lemah lembut. Para Wali Songo tidak menghancurkan Majapahit justru para Wali Songo memihak kepada Brawijoyo V yang telah dikudeta oleh Girindro Wardhono. Kita juga bisa belajar dari strategi perang walisongo yang sangat luar biasa sehingga bisa mengalahkan Girindro Wardhono yang memiliki kuasa yang sangat banyak.

Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran dari kisah ini.

REFERENSI

Abdullah, Rachmad. 2016. Sultan Fattah. Solo: Al Wafi.

About Agung AtTambuniy

Ayah 2 anak. Hamba Allah yang ingin beramal jariyah. -Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu-

View all posts by Agung AtTambuniy →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *