Antara Toga, Thagha dan Bagha

wisuda kuliah

Perkuliahan kadang menjadi sebuah hal yang menakutkan bagi mahasiswa. Tugas menumpuk, deadline yang mepet, ekstra kurikuler yang banyak telah menjadi penguras waktu santai bagi mahasiwa. Belum lagi masalah sosial antar mahasiswa dan kondisi ekonomi yang tidak stabil menambah lagi tekanan kepada mahasiswa.

Maka, tak heran jikalau pada saat wisuda, mahasiswa menjadi sangat senang. Mereka seakan lupa perjuangan berat yang telah lewati di zaman kuliah. Mereka terlihat rapih, tersenyum berjalan menghadapi dekan dan rektornya, dan bergembira dalam hatinya ketika bersama keluarganya.

Semua kegembiraan itu terbungkus dalam balutan baju toga yang mempesona. Setiap yang memakainya akan berusaha memakai dengan dandanan yang terbaik. Lensa kamera disiapkan untuk mengambil pose paling sempurna dari sang pemakai toga. Terbayang kelak hasil cetakan kamera akan dipajang di ruang tamu rumah agar anak, cucu, cicit tahu bahwa pendahulunya telah berprestasi. Mungkin, terbayang pula langkah mencari rezeki di masa depan yang lebih mudah dengan gelar yang ada di tangan.

wisuda kuliah

Gambar ilustrasi wisuda

Sumber: https://unsil.ac.id/tag/wisuda/

Namun, toga bisa menjebak pemakainya jika sang pemakai tidak berhati-hati. Pemakai toga bisa terjebak rasa sombong karena merasa telah mencapai tingkatan yang lebih baik daripada orang lain seperti Fir’aun yang terjebak dengan thagha-nya dan Qarun yang terjebak dengan bagha-nya

Fir’aun yang Thagha

Fir’aun memiliki kekuasaan yang luar biasa di masanya. Ia memperbudak Bani Israil untuk membuat kuil-kuil pemujaan, negerinya subur dialiri oleh Sungai Nil, bahkan ia mampu untuk membangun makam dengan bentuk piramid yang sangat indah.

Karena merasa kekuasaannya sangat kuat, Fir’aun sampai-sampai memplokamirkan dirinya sebagai tuhan:

An Naziat ayat 24

 

 

  (Seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. (An Naziat:24)

 

 

 

 

 

 

Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”. (Al Qashash: 38)

Allah bahkan mengutus 2 Rasul sekaligus kepada Fir’aun dan pengikutnya untuk menyampaikan perintah dari Allah:

 

 

 

 

Kemudian sesudah rasul-rasul itu, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami, maka mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. (Yunus : 75)

Allah kemudian memberikan julukan “thagha” kepada Fir’aun. “Thagha” menunjukkan “melampaui batas disebabkan oleh posisi jabatannya”.

 

 

 

“Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, (An Naziat: 17)

Qarun yang bagha

Qarun merupakan salah satu pembesar Fir’aun dan umat Nabi Musa. Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menyampaikan bahwa menurut kebanyakan ahlul ilmi, Qarun adalah saudara sepupu Nabi Musa AS.

Qatadah ibnu Di’amah mengatakan tentang Qarun di tafsir Ibnu Katsir, “Kami mengatakan bahwa dia adalah anak paman Musa AS. Qarun dijuluki Al Munawwir karena suaranya yang bagus saat membaca kitab Taurat, tetapi dia adalah musuh Allah lagi munafik. Keserakahan dirinyalah yang menjerumuskannya ke dalam kebinasaan karena hartanya yang terlalu banyak.” Menurut Syahr ibnu Hausyab, Qarun menjulurkan kainnya sepanjang satu jengkal karena kesombongan dan keangkuhannya.

Dalam Al Qashash ayat 76, Al Qur’an menyampaikan bahwa kunci-kunci gudang harta Qarun sangat berat karena banyaknya kunci. Al-A’masy meriwayatkan dari Khaisamah bahwa kunci-kunci perbendaharaa harta Qarun terbuat dari kulit, setiap kunci besarnya sama dengan jari telunjuk. Setiap kunci untuk satu gudang tersendiri secara terpisah. Apabila Qarun berkendaraan, maka semua kunci perbendarahaannya diangkut dengan 60 ekor keledai yang kuat.

Oleh karena Qarun merasa sombong dengan hartanya, maka Allah, juga dalam Al Qashash ayat 76, memberikan gelar “bagha”.

 

 

 

 

 

Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”. (Qashash: 76)

Fir’aun yang merasa sombong dengan kekuasaannya dan Qarun yang sombong dengan hartanya akhirnya dihukum oleh Allah. Fir’aun ditenggelamkan di laut merah bersama pasukannya sedangkan Qarun dibenamkan ke dalam Bumi beserta harta-hartanya.

 

 

 

 

Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). (Al Qasas: 81)

Maka, toga yang kita pakai dan kita banggakan jangan sampai membuat kita tenggelam dalam kesombongan. Jangan sampai juga kelak di masa depan ketika kita sudah sukses, kita merasa sombong dengan kekuasaan dan jabatan kita seperti Fir’aun yang thagha atau merasa sombong karena harta yang sangat banyak telah kita peroleh seperti Qarun yang bagha. Kesempurnaan hanyalah milik Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Referensi

Ibnu Katsir, Abul Fida Isma’il. 2016. Tafsir Ibnu Katsir.

Wallahu’alam

About Agung AtTambuniy

Ayah 2 anak. Hamba Allah yang ingin beramal jariyah. -Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu-

View all posts by Agung AtTambuniy →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *