4 Kisah Hijrah Sahabat Rasul

Ilustrasi hijrah. Perjalanan naik unta

Kata hijrah berasal dari kata Arab yang berarti berpisah, pindah dari satu negeri ke negeri lain, berjalan di waktu tengah hari, igauan, mimpi. Istilah hijrah biasa dipakai dalam Islam dengan pengertian meninggalkan suatu negeri yang tidak begitu aman menuju negeri lain yang lebih aman, demi keselamatan dalam menjalan agama. Raqib al-Isfahani, pakar leksiografi Al-Quran berpendapat bahwa sebagai istilah kata hijrah biasanya mengacu kepada tiga pengertian, yaitu: 1) meninggalkan negeri yang berpenduduk kafir menuju negeri yang berpenduduk muslim, seperti hijrah Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah, 2) meninggalkan syahwat, akhlak yang buruk dan dosa-dosa menuju kebaikan yang diperintahkan oleh Allah SWT, 3) mujahadah an-nafs atau menundukkan hawa nafsu untuk mencapai kemanusiaan yang hakiki.

Peristiwa Hijrah pada Zaman Nabi Muhammad ﷺ didorong adanya 2 hal yaitu siksaan di Makkah dan harapan di tempat baru. Di Makkah, kaum Muslimin mendapatkan pemboikotan menyeluruh yang meliputi pemboikotan ekonomi dan hubungan ekonomi jika kaum Muslimin tidak mau menyerahkan Rasulullah ﷺ kepada kaum musyrik. Keadaan ini membuat kaum Muslimin berlindung selama 3 tahun di celah bukit milik Abu Thalib dengan keadaan memprihatinkan yaitu mereka terpaksa memakan dedaunan dan kulit-kulit, jeritan kaum wanita serta tangis bayi-bayi yang mengerang kelaparan pun terdengar di balik celah bukit tersebut.

Perkampungan Abu Thalib
Gambar Perkampungan Abu Thalib. Credit: http://sirah-nabawiyyah.blogspot.co.id

Keadaan tersebut, membuat kaum muslim berhijrah. Harapan hijrah datang di 2 tempat, yaitu Habasyah dan Madinah. Dari Habasyah, Rasulullah mendengar adanya Raja Najasi yang adil dan kelak dia akan masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Dari Madinah (Yatsrib), 7 orang datang menghadap Rasulullah ﷺ dan mengucapkan sumpah setia dalam Bai’at Aqabah.

Ada kisah 4 sahabat yang memiliki kisah dan kondisi yang berbeda pada peristiwa hijrah ini yang kisahnya sangat layak untuk kita ambil pelajaran.

  • Hijrahnya Umar Bin Khaththab

Umar bin Khaththab termasuk sahabat yang pertama-tama berhijrah. Beliau berhijrah sebelum Nabi Muhammad ﷺ berhijrah.

Tidak seorang pun dari sahabat Rasulullah ﷺ yang berani berhijrah secara terang-terangan kecuali Umar ibnul Khaththab RA. Ali bin Abi Thalib RA meriwayatkan bahwa ketika Umar bin Khaththab hendak berhijrah, ia membawa pedang, busur, panah dan tongkat di tangannya menuju Ka’bah, sambil disaksikan oleh tokoh-tokoh Quraisy. Umar kemudian melakukan thawaf 7 kali dengan tenang. Setelah itu, ia datang ke Maqam mengerjakan shalat kemudian berdiri seraya berkata, “Semoga celakalah wajah-wajah ini! Wajah-wajah inilah yang akan dikalahkan Allah! Barangsiapa ingin ibunya kehilangan anaknya, istrinya menjadi janda, atau anaknya menjadi yatim piatu hendaklah ia menghadangku di balik lembah ini.”

Selanjutnya Ali RA mengatakan, “Tidak seorang pun berani mengikuti Umar kecuali beberapa kaum lemah yang telah diberi tahu oleh Umar. Beliau kemudian berjalan dengan aman.”

Demikianlah secara berangsur-angsur kaum Muslimin melakukan hijrah ke Madinan sehingga tidak ada yang tertinggal di Makkah kecuali Rasulullah ﷺ, Abu Bakar RA, Ali RA, orang-orang yang ditahan, orang-orang sakit dan orang-orang yang tidak mampu keluar.

Hijrahnya Umar Bin Khaththab RA ini adalah hijrahnya orang yang disegani di masa-masa yang lengang. Beliau hijrah di awal dimana tensi Makkah belum terlalu tinggi sehingga ketika Umar Bin Khaththab RA menantang kaum musyrik di Ka’bah, tidak ada satupun dari mereka yang berani karena memang belum ada konsolidasi kekuatan dari kaum Musyrik.

Keadaan hijrahnya Umar bin Khaththab inilah yang mungkin paling kita harapkan. Ia sudah disegani sebelum hijrah dan waktu hijrahnya juga tepat. Maka, jika dari kita memiliki kekuatan dan waktu yang tepat untuk berhijrah dari keburukan menuju kebaikan, hijrahlah seperti hijrahnya Umar.

  • Hijrahnya Abu Bakar

Abu Bakar RA memiliki tugas yang sangat berat dalam hijrah yaitu mendampingi Rasululullah ﷺ. Mungkin kalau kita menjadi Rasulullah ﷺ dan diharuskan memilih sahabat mana yang akan mendampingi kita, kita akan memilih sahabat yang disegani secara kekuatan fisik seperti Umar bin Khaththab ataupun Sa’ad Bin Abi Waqqash. Namun, Rasulullah ﷺ justru memilih Abu Bakar RA yang dikenal lembut. Hal ini pasti Rasulullah ﷺ menyadari adanya keutaman Abu Bakar RA dibandingkan dengan sahabat lain, terbukti dengan berhasilnya hijrah Rasulullah ﷺ kelak.

Abu Bakar RA hijrah ketika para kaum musyrik Makkah telah sepakat untuk membunuh Rasulullah ﷺ. Mereka pun mengepung rumah Rasulullah ﷺ untuk menjalankan niat mereka di malam hari. Namun, Allah membuat mata mereka tidak bisa melihat Rasulullah ﷺ yang keluar dari rumah di depan mata mereka.

Gua Tsur
Gua Tsur. Credit: Islamidia.com

Abu Bakar RA dan Rasulullah ﷺ kemudian ke Gua Tsur untuk bersembunyi. Begitu tiba di gua, Abu Bakar berkata, “Demi Allah, engkau jangan masuk dulu sebelum aku masuk; jika ada sesuatu di dalamnya, maka biarlah aku yang mengalaminya.” Kemudian dia masuk untuk menyapu gua dan Abu Bakar melihat di gua itu ada beberapa lubang, maka dia pun menyobek kainnya dan menyumbatnya tetapi masih tinggal dua lubang lagi, lantas ditutupnya dengan kedua kakinya. Kemudian dia berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Masuklah,” Rasulullah pun masuk dan merebahkan kepalanya di pangkuannya lalu tertidur. Sementara kaki Abu Bakar RA yang dipergunakan untuk menyumbat lubang disengat oleh binatang berbisa namun Abu Bakar RA tidak bergeming sedikitpun karena khawatir membangunkan Rasulullah ﷺ. Kondisi ini membuat air matanya menetes hingga membasahi Rasulullah ﷺ. Lalu Beliau ﷺ berkata kepada Abu Bakar, “Ada apa denganmu wahai Abu Bakar?”

“Ayah dan ibuku menjadi tembusanmu, wahai Rasulullah ﷺ! Aku telah disengat,” jawabnya.

Lantas Rasulullah ﷺ meludah kecil ke arah bekas sengatan tersebut sehingga apa yang dirasakannya hilang sama sekali.

Allah mengabadikan percakapan antara Nabi Muhammad ﷺ dengan Abu Bakar di Gua Tsur dalam Surat At Taubah ayat : 40

Surat At Taubah Ayat 40
Surat At Taubah ayat 40

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. (At Taubah ayat 40)

Kisah hijrahnya Abu Bakar ini menunjukkan kondisi hijrah di mana hijrahnya kita diharuskan untuk menjaga sesuatu yang sangat berharga. Maka pengorbanan dan kesiapsiagaan adalah sebuah keniscayaan. Kita diharuskan berada dalam kondisi yang terbaik dalam menghadapi kondisi hijrah seperti ini.

Ilustrasi hijrah. Perjalanan naik unta
Ilustrasi hijrah. Credit:http://aqlislamiccenter.com/
  • Hijrahnya Ali Bin Abi Thalib

Ali Bin Abi Thalib merupakan salah satu sahabat yang terakhir dalam proses hijrah. Ali bin Abi Thalib menjadi pengganti Rasul untuk tidur di ranjang Rasulullah ﷺ yang telah menjadi incaran kaum kafir quraisy Makkah. Ali Bin Abi Thalib dengan gagah menggantikan peran Rasulullah ﷺ dengan mempertaruhkan nyawanya. Saat itu, dia hanya sendirian dengan musuh yang sudah berkumpul, ditambah lagi dengan tensi yang sedang tinggi.

Ali Bin Abi Thalib juga dengan amanah mengembalikan barang-barang penduduk Makkah yang dititipkan kepada Rasul. Untuk melaksanakan tugas itu, Ali Bin Thalib berada 3 hari di Makkah dan selalu menampakan dirinya kepada penduduk Makkah.

Ibnu Sa’d meriwayatkan dari Ali R.A., dia berkata: Tatkala Rasulullah saw. berangkat menuju Madinah dalam hijrahnya, beliau menyuruhku untuk tetap tinggal sesudahnya sampai aku menunaikan semua titipan yang masih beliau bawa kepada orang-orang; karena itulah beliau digelari al Amin. Aku tinggal selama tiga hari. Aku selalu menampakkan diri dan tidak bersembunyi walau cuma sehari. Kemudian aku berangkat dengan menempuh jalan Rasulullah saw. sampai aku tiba di tengah Bani Amr bin Auf, sedang Rasulullah saw. tinggal di sana. Kemudian aku tinggal di rumah Kultsum bin al Hidm dan di sana pula tempat tinggal Rasulullah saw. — demikian tercantum dalam kitab Kanz al Ummal (juz 8, hal. 335).

Hijrahnya Ali Bin Abi Thalib mengajarkan kita bahwa untuk hijrah butuh keberanian dan kadang “kenekatan”. Ali Bin Abi Thalib juga mengajarkan kita bahwa hijrah juga harus tetap menunaikan amanah-amanah sekalipun amanah itu harus ditunaikan kepada orang yang tak berhijrah.

  • Hijrahnya Ubaidilah bin Jahsyi

Ubaidilah bin Jahsyi merupakan salah satu sahabat Rasulullah ﷺ yang melakukan hijrah ke Habasyah (Ethiopia) bersama dengan istrinya dan sahabat Nabi ﷺ yang lain. Hijrah ke Habasyah merupakan hijrah yang dilakukan sebelum hijrah ke Madinah dan tidak diikuti oleh Rasulullah ﷺ.

Ada yang memberitakan bahwa hijrahnya Ubaidilah bin Jahsyi ini berakhir dengan tragis. Ubaidilah bin Jahsyi dikabarkan telah murtad di Habasyah.

Hijrah ke Habasyah
Hijrah ke Habasyah. Credit:http://sirah-nabawiyyah.blogspot.co.id/

Ibnu Ishaq berkata, “Muhammad bin Ja’far bin Zubair telah bercerita kepadaku, “Ubaidullah bin Jahsy –ketika telah masuk Kristen—melewati sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada di negeri Habasyah. Ia berkata, ‘Kami telah melihat, sedangkan kalian masih meraba-raba.’ Maksudnya, kami telah menemukan kebenaran, sedangkan kalian masih mencari-carinya dan belum menemukannya.” (Ar-Raudhul Unuf, II: 538)

Kisah ini juga diriwayatkan Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat. Ia berkata, “Muhammad bin Umar mengabarkan kepada kami, Abdullah bin ‘Amru bin Sa’id bin ‘Ash, Ummu Habibah Menuturkan, “Dalam mimpi aku melihat Ubaidullah bin Jahsy, suamiku dalam rupa yang sangat buruk dan menjijikkan. Aku terperanjat. Spontan aku mengatakan, ‘Demi Allah, keadaannya akan berubah.’ Dan ternyata keesokan harinnya ia berkata, ‘Wahai Ummu Habibah, aku telah meneliti semua agama dan aku tidak melihat yang lebih baik daripada Agama Nasrani. Dulu aku pernah memeluk keyakinan ini. Kemudian aku masuk agama Muhammad, dan kini aku kembali ke agama Nasrani.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, itu tidak lebih baik bagimu.’ Aku lalu mengisahkan mimpi yang aku lihat, tetapi ia tidak memperdulikannya. Akhirnya ia kecanduan minum khamr sampai meninggal dunia.” (Thabaqat Ibnu Sa’ad, VII: 97)

Hijrahnya Ubaidilah bin Jahsyi mengajarkan kita bahwa hijrahnya kita haruslah dengan sebenar-benar hijrah. Jangan sampai kita kembali ke kondisi awal kita sebelum hijrah atau bahkan lebih buruk daripada kondisi awal kita sebelum hijrah karena hal itu merupakan sebuah kerugian yang sangat besar.

Meskipun ada berita bahwa Ubaidilah bin Jahsyi meninggal dalam keadaan kafir, namun ada pertimbangan lain yang menyebutkan bahwa berita tersebut tidak benar yang dibahas di sini http://wanitasalihah.com/benarkah-ubaidullah-bin-jahsy-pindah-ke-agama-nasrani/ .

4 kisah hijrah di atas mengajarkan kita untuk bersiap atas berbagai macam tipe hijrah yang mungkin kita akan hadapi ke depannya. Semoga kita selalu siap untuk berhijrah menjadi lebih baik dan meninggalkan seluruh keburukan kita sebelum hijrah serta selalu dikokohkan dalam hijrah kita. Selamat berhijrah!

REFERENSI

http://www.pengertianahli.com/2013/12/pengertian-hijrah-apa-itu-hijrah.html

https://ikhwahmedia.wordpress.com/2016/01/26/ubaidillah-bin-jahsy-mati-dalam-keadaan-murtad/

https://almanhaj.or.id/4249-beberapa-peristiwa-pasca-perang-khaibar.html

http://wanitasalihah.com/benarkah-ubaidullah-bin-jahsy-pindah-ke-agama-nasrani/

http://www.mtw.or.id/menelisik-status-ubaidillah-bin-jahsy-dari-metodologi-sirah-2/

http://kisahmuslim.com/1492-najasyi-ashhamah-bin-jabar.html

https://sahabatnabi.com/152-biografi-sahabat-nabi-ali-bin-abi-thalib-hijrahnya-serta-peperangannya-ali-bersama-nabi-seri-2.html

http://wanitasalihah.com/benarkah-ubaidullah-bin-jahsy-pindah-ke-agama-nasrani/

About Agung AtTambuniy

Ayah 2 anak. Hamba Allah yang ingin beramal jariyah. -Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu-

View all posts by Agung AtTambuniy →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *