2 Surat Dari Maharaja Sriwijaya ke Dinasti Khalifah Umayyah

Ilustrasi Surat Tua

Kedatangan awal Islam di Nusantara sangatlah menarik untuk dibahas. S.Q Fatimi pada tahun 1963 dalam jurnalnya berjudul “Two letters from The Maharaja to The Khalifah” ( 2 surat dari Maharaja ke Khalifah) menyuguhkan analisa kedatangan awal Islam di Nusantara melalui 2 surat yang dikirim ke Kekhalifahan Umayah.

Al Jahiz ‘Amr bin Bahr telah menjelaskan dalam bukunya yang berjudul “al Hayawan” bagian (chapter) “on elephants in his magnificent worksebuah kutipan:

Surat Indrawarman ke Khalifah

“Al Haytham bin Adi telah menceritakan dari Abu Yaqub al-Thaqaff, dari Abdul Malik bin Umair berkata bahwa ia melihat dalam sekretariat (Khalifah) Mu’awiyah (setelah Ia meninggal) sebuah surat dari raja “Al Sin” yang bertuliskan: “ dari raja Al Sin, yang dikandangnya terdapat ribuan gajah, yang istananya terbuat dari bata emas dan perak, yang dilayani oleh ribuan anak perempuan raja-raja, dan yang memiliki 2 sungai yang mengairi Gaharu, kepada Muawiyah…””

Dalam jurnalnya, Fatimi menulis bahwa Al Haytham bin Adi, yang ditulis dalam kutipan Al Jahiz di atas, merupakan salah satu pendiri ilmu historiografi dalam Islam dan telah menulis sedikitnya 50 buku tentang sejarah, genealogi, biografi, cerita rakyat Arab dan topografi. Sedangkan, Abu Yaqub al Thaqaff, yang namanya juga dimuat dalam kutipan Al Jahiz, merupakan perawi yang dipakai oleh Abu Dawud, At Tirmidzi, dan An Nasa’i untuk meriwayatkan hadits. Oleh karena alasan di atas, Fatimi berpendapat bahwa tidak alasan untuk menolak kutipan dari Al Jahiz.

Sayangnya, apa yang ditulis oleh Al Jahiz ini merupakan potongan kutipan yang lebih panjang. Kutipan ini hanya menjelaskan surat yang ditulis ini “dari siapa” dan “dikirim ke siapa” namun tidak menjelaskan maksud sebenarnya dari surat. Dalam konteks bab yang ditulis oleh Al Jahiz, yaitu bab tentang Gajah, memang kutipan ini sudah cukup dan sesuai, namun tetap saja disayangkan mengingat surat ini dikirim dari negeri jauh untuk seorang Khalifah pertama setelah Khulafaurrasyidin.

Banyak pertanyaan dari Fatimi karena terpotongnya kutipan Al Jahiz. Namun, setidaknya surat kedua yang mirip dengan surat pertama akan memberikan beberapa jawabannya.

Ilustrasi Surat Tua

Gambar. Ilustrasi Surat Tua

Sumber:  https://wall.alphacoders.com/big.php?i=445999

Sebuah surat dari rajanya raja (Maharaja) kepada Khalifah Umayyah yang lain yaitu Umar bin Abdul Aziz (99 H – 102 H) dapat dianalisa dengan lebih komplit. Ibnu Abdur Rabbih dalam bukunya “Al Iqd Al Farid” (Kalung yang Unik) bagian Royal Epistles, Ibnu Abdur Rabbih mengutip dari penulis terdahulu yaitu Nuaim bin Hammad, sebagai berikut:

Surat kedua Indrawarman kepada Khalifah

Nu’aim bin Hammad menulis, Raja dari Al Hind mengirimkan surat kepada Umar bin Abdul Aziz yang berbunyi: “Dari Raja di Raja, yang merupakan keturunan dari ribuan raja, yang memiliki permaisuri dari keturunan ribuan raja, yang dikandangnya memiliki ribuan gajah, yang memiliki wilayah 2 sungai yang mengairi gaharu, kayu wewangian (odoriferous herbs), pala dan kamper, yang harumnya menyebar hingga jarak 12 mil. Kepada Raja Arab, yang tidak menyekutukan Tuhan. Aku mengirimkan kepada Anda hadiah, yang tidak banyak tetapi hanya sebagai perkenalan dan Aku berharap Anda mengirimkan kepadaku seseorang yang bisa mengajarkan Islam dan memerintahkan Aku dalam hukum Islam (atau dalam versi lain: ‘dapat mengajarkan Islam dan menjelaskannya padaku’) Salam!”

Nu’aim bin Hammad, yang dikutip oleh Ibnu Abdur Rabbih dalam bukunya, merupakan salah seorang pendiri pergerakan hadits dalam literatur Islam. Dia memiliki reputasi sebagai cendekiawan muslim pertama yang menyusun tradisi perawian dan yang pertama menyusun Al Musnad. Beliau meninggal di penjara karena menolak paham mu’tazilah yaitu paham yang berpendapat bahwa Al Qur’an adalah makhluk Allah.

Surat serupa juga dikutip oleh Ibnu Taghri Berdi ( 813 H – 874 H) dalam karyanya yang sangat baik yaitu Al Nujum Al Zahirah fi Muluk Misr wa’l Qahirah. Pada versi Ibnu Taghri Berdi, terdapat tambahan 1 kalimat lagi di akhir surat Maharaja ke khalifah:

“Saya mengirimkan kepada Anda hadiah berupa musk, batu ambar, menyan dan kamper. Mohon Anda menerimanya, untuk saya adalah saudara Anda dalam Islam.”

Pala

Gambar. Pala

Sumber: http://www.thenaturalman.net/2016/01/04/benefits-nutmeg/

Ibnu Taghri Berdi juga membantu dalam menetapkan tahun asal dari surat ini. Dia menetapkan surat ini dalam acara yang diadakan pada tahun 99 hijrah atau 717-718 M. Sedangkan, Umar bin Abdul Aziz naik menjadi khalifah pada Bulan Safar (bulan kedua) 99 H. Fatimi menyimpulkan bahwa surat itu ditulis di semester 2 718 M.

Fatimi lalu melakukan analisa terhadap kedua surat ini dan memberikan beberapa kesimpulan:

  1. Karakteristik pertama dari kedua surat di atas adalah bagian alamat pengirim dari surat yang sangat mirip. Sedikit perbedaan yang terdapat pada kedua surat disebabkan oleh “penerjemahan bahasa Arab” dari surat asli yang berbeda. Sebagai contoh, pada surat pertama terdapat frase “yang dilayani oleh ribuan anak perempuan dari raja” sedangkan pada surat kedua ditulis “yang permaisurinya merupakan anak perempuan dari ribuan raja”.
  2. Sebutan “malik al-amlak” (raja dari raja) yang digunakan pada surat kedua secara jelas merupakan terjemahan dari kata Sanskerta yaitu “Maharaja” yang secara jelas muncul dalam karya tulis berjudul “Ligor Inscriptions of North Malaya” bertahun 775 M.
  3. Sang Maharaja sangat membanggakan kandang ribuan gajah yang ia punya. Dr. Schnither, peneliti reruntuhan Pulau Sumatera, menulis bahwa “Candi Muara Takus kemungkinan adalah makam dari keturunan raja. Rakyat Melayu berkata bahwa penguasa Hindu berubah menjadi gajah. Entah mengapa segerombolan gajah sering mengunjungi reruntuhan candi seperti yang disaksikan oleh Schnitger pada aktivitas penggalian yang ia lakukan pada bulan April tahun 1935.
  4. Pada surat pertama disebutkan bahwa Sang Maharaja memiliki istana dari emas dan perak. Fatimi menyimpulkan bahwa yang dimaksud istana dari emas dan perak berasal dari Pulau Sumatera. Hal ini disimpulkan dari Ptolemy, geografer Yunani, yang menjuluki Pulau Sumatera dan Semenanjung Malaya sebagai “Semenanjung Emas”. Cerita dari Ramayana, Mahabarata, Kathasaritsagara menjuluki kepulauan di Sumatera dan sekitarnya sebagai Suvarnadwipa yang berarti Pulau Emas. Sedangkan, penulis Arab dari abad ke 10, Abu Zaid Al Sirafi (303 H) dan Al Mas’udi, menyebutkan bahwa terdapat batu emas yang dilempar oleh Maharaja Zabaj setiap hari ke dalam kolam yang ada di istananya.
  5. Gaharu, pala, kamper, dan tumbuhan wewangian lain adalah rempah asli yang ada di sekitar Malaysia dan Sumatera. Pada saat itu, aromanya menyebar hingga Semenanjung Iberia di Spanyol dan Portugis.
  6. 2 Sungai yang disebut pada kedua surat merupakan sungai Jambi dan Musi di Sumatera. Pada kedua sungai ini terdapat kota Jambi dan Palembang yang pernah menjadi ibu kota dari Kerajaan Sriwijaya dan telah disebutkan oleh geografer Arab sebagai Jabah dan Siribizah.

Candi Muara Takus

Gambar. Candi Muara Takus

Sumber: https://candi1001.blogspot.co.id/2013/02/sejarah-candi-muara-takus.html

Kesimpulan dari cerita di atas adalah kedua surat tersebut berasal dari Maharaja Sri Indrawarman yang merupakan Maharaja dari Sriwijaya yang berpusat di Sumatera. Sri Indrawarman telah membuat Sriwijaya dalam kegemilangannya namun tetap Sri Indrawarman mencari Islam di masa awal perkembangannya.

UStadz Salim A. Fillah dalam Tausiyahnya tentang “Keberkahan Islam di Indonesia” menyebutkan bahwa surat ini telah dibahas oleh Buya Hamka. Hal yang dibahas oleh Buya Hamka adalah di Bandar Agung Sriwijaya pada saat itu telah ada kaum Muslimin meskipun jumlahnya tidak banyak tetapi akhlak mereka, kejujuran mereka, sifat amanah mereka, telah memikat hati Sang Maharaja Indrawarman. Semangat belajar yang tinggi ditunjukkan oleh Maharaja Sri Indrawarman karena meminta guru untuk mengajarkan Islam.

Inilah keberkahan Islam di Nusantara. Islam tidak masuk melalui perang dan pedang. Ia masuk melalui pesona akhlak pengikutnya sampai-sampai seorang Maharaja Sri Indrawarman yang menjadi Raja dari Sri Wijaya yang sedang gilang gemilang mengirimkan surat kepada Khalifah awal-awal perkembangan Islam untuk dikirimkan guru yang mengajarkan Islam.

Jurnal Referensi bisa diakses di sini.

Referensi

Fatimi, S. Q. 1963. “Two Letters From The Maharaja To The Khalifah.” Islamic Studies.

 

 

 

About Agung AtTambuniy

Ayah 2 anak. Hamba Allah yang ingin beramal jariyah. -Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu-

View all posts by Agung AtTambuniy →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *