Sepotong Cinta Di Dalam Kereta

Oleh: M. Ricky Pratama

Kereta yang kunanti tiba juga. Satu jam lebih waktuku terbuang. Menunggu di stasiun sempit yang penuh asap rokok ini. Kereta ini lebih kosong dibandingkan dengan imajinasi suuzonku tentang kereta yang penuh sesak selama menunggu tadi. Segera aku menghampiri gerbong yang tiap hari menemani perjalanan kuliahku. Aku tidak berharap muluk ada secuil kursi untuk kududuki selama satu jam perjalanan kereta ekonomiku kali ini. Aku hanya berharap ada space kosong di atas situ untuk menaruh tas selempangku yang jika kutaksir beratnya hampir lima kilo. Harapanku terpenuhi.

Kereta di minggu sore kali ini memang berbeda bila dibandingkan dengan hari-hari kuliahku. Relatif kosong. Suasana kereta sunyi senyap. Di gerbong ini hanya ada aku dan sekitar lima bapak serta tiga remaja yang berdiri berpegangan besi di tempat kami menaruh barang bawaan. Masing-masing dari kami sibuk berdiam diri mengacuhkan yang lain. Sementara mayoritas penumpang yang beruntung dapat tempat duduk lebih memilih tidur, memejamkan mata, pura-pura tidur, dan aktivitas sejenis lainnya.

Kereta berhenti sejenak. Stasiun ini. Benar apa yang kawanku bilang. Ini salah satu stasiun tersibuk di Ibukota, meskipun letaknya di pinggiran kota. Kereta mendadak terisi setengah penuh karena banyaknya penumpang baru. Kewaspadaan kunaikkan. Aku tidak ingin kalah lagi. Cukup ponsel bututku mereka ambil beberapa bulan lalu. Jika perlu akan kuhabisi mereka kalau mereka ingin mengalahkanku lagi. Mereka harus segera diberantas dan dikalahkan. Pencopet spesialis kereta penuh!

Gambar: Ilustrasi Kereta Ekonomi

http://sitihoriah.blogspot.co.id/2016/11/pembenahan-kereta-jabodetabek.html

Kereta berjalan lagi. Alunannya mulai bisa kuikuti. Masih sekitar tiga puluh menit aku harus berdiri di gerbong ini. Kereta mulai ramai, tetapi tidak berisik. Ada tiga gadis di sisi sana yang sedang mengobrol dengan cerianya. Seorang pemuda di sebelahnya terlihat mencuri-curi pandang dengan si gadis berambut pendek, satu dari ketiganya. Di kerumunan dekat pintu keluar, kulihat ada seorang ibu yang sedang menggendong balita laki-lakinya. Ia sibuk mengayun ke kiri dan ke kanan, meski tidak terlalu leluasa karena saat ini ia sadar sedang berada di dalam kereta. Rupanya si Adik tertidur pulas. Tentram melihat harmonisasi itu. Rata-rata manusia dibesarkan dengan cara seanggun dan sesempurna itu. Terkadang aku berpikir mengapa Dia menciptakan cinta setulus itu?

Saking terpananya aku menatap wajah ikhlas itu, sampai-sampai aku melupakan kode etik dalam kereta yang sangat aku junjung. Tidakkah ada di antara Anda wahai penumpang yang bersedia mempersilakan duduk untuk ibu ini? Bapak yang di sana, bisakah Anda bangkit untuk sejenak saja mengalah kepada ibu ini? Bukankah Anda memiliki isteri dan dari manakah Anda dibesarkan kalau bukan dari buaian seorang ibu? Mbak yang pura-pura cuek di situ, lupakah Anda akan siapa yang melahirkan Anda? Di mana empati sesama wanita yang katanya lebih sensitif daripada laki-laki itu? Lalu kau yang terus merutuk dalam hati seperti ini? Apa yang bisa kau perbuat untuk ibu itu?

Dosen Sosiologiku pernah bilang bahwa tempat paling tepat untuk melihat potret Indonesia secara gamblang adalah kereta. Di sana, kata beliau, kita akan melihat pedagang asongan, pengamen, peminta-minta, dan pencopet. Dosenku itu mungkin tidak menyadari adanya antipati seperti ini. Jika benar apa yang dosenku bilang, seperti inikah Indonesia yang ramah dan menunjung tinggi sopan santun itu?

Si Adik mulai merebut perhatianku. Ia menangis terbangun dari tidurnya. Barangkali si Adik merasa gerah terpanggang di kereta yang pengap seperti ini. Akupun gerah ditambah gemas melihat belum adanya empati para penumpang. Si Ibu mengayun-ayun si Adik ke kiri ke kanan. Sembari menyanyi-nyanyi kecil dan memberikan senyuman terbaik kepada buah hati tercintanya, si Ibu masih berusaha menyembunyikan rasa lelah itu. Namun, kupikir ia gagal menyembunyikannya.

Kereta ini meraung kencang di sela deru angin sore. Raungannya tak sekencang raungan hatiku. Tak bisa dibiarkan. Sesuatu harus kulakukan. Aku tak ingin ini menjadi penyesalan nantinya. Mungkin karena suara tangis si Adik, bapak yang kuvonis pura-pura tertidur itu terbangun dari tidurnya. Rupanya ia memang sedang tidur. Sejenak ia tampak mengamati sekitarnya sambil mengumpulkan kesadaran yang seolah berterbangan dan perlahan mulai terkumpul. Ia sadar akan eksistensi ibu dan anak itu. Sesaat setelah menguap ia lekas bangkit dan mempersilakan si Ibu untuk duduk. Di saat yang bersamaan, si Adik makin menjadi-jadi rewel dan tangisnya. Kali ini sebagian penumpang di dalam gerbong mencurahkan perhatiannya meski hanya sesaat kepada ibu dan anak itu.

Namun, si Ibu menolaknya dengan halus. Aku menyukai gaya penolakannya yang disertai senyuman santun halus itu. Suaranya yang kecil kalah bising oleh raungan kereta. Si Bapak menawarkannya lagi. Si Ibu tetap menolak. Kali ini suaranya terdengar olehku. Dia kepanasan. Begitu kata si Ibu merujuk pada anaknya yang masih menangis dan kali ini disertai rontaan menggeliat. Aku jadi bingung sendiri. Tapi mungkin si Ibu benar untuk tetap berdiri agar si Adik tidak tambah kepanasan. Si Bapak yang sudah telanjur berdiri akhirnya mempersilakan seorang wanita muda yang berada persis di samping kiri si Ibu untuk duduk.

Kini aku menyadari betapa rendahnya aku. Sangat jelas aku tidak memainkan peran apapun, malah menancapkan kutukan di dalam hati sendiri. Entah sudah seberapa hitam hati ini. Begitu banyak coretan yang justru kuukir sendiri. Si Bapak yang sudah kuanggap sebagai lelaki yang tidak tahu darimana dia dibesarkan kalau bukan dari buaian seorang ibu, malah menjadi pahlawan pada drama kehidupan sore ini. Tidakkah itu jahat? Aku sering menyebut seseorang monster karena kerjaannya marah-marah melulu ketika acara ospek kampus atau seorang perokok di stasiun yang dengan bangga mengepulkan asap nikotinnya. Padahal satu yang sering tidak kusadari adalah monster di dalam sini. Membunuh sesuatu yang baik dari-Nya adalah bahaya yang mungkin lebih mematikan daripada nikotin.

Aku tak berani menoleh lagi ke situ. Aku malu pada si Bapak. Namun suara tangis si Adik seakan menjadi magnet bagiku untuk kembali menoleh ke arahnya. Duh Ibu, kenapa Anda menolak tawaran si Bapak? Aku tak tega melihat Anda berdiri terus seperti itu. Sebegitu kuatkah Anda? Aku menginginkan Anda duduk. Anda memiliki hak penuh untuk itu. Anda pastilah sangat capek. Ayolah Bu.

Seorang ibu lain yang usianya kutaksir tak jauh beda dengan si Ibu mencoba menghibur si Adik dengan ci-luk-ba dan sebangsanya. Si Ibu seakan makin bersemangat setelah tahu ada ibu lain yang satu rasa dengannya. Ia juga mengeluarkan ci-luk-ba dan sebangsanya, lalu kembali menimang-nimang sambil bernyanyi dan tersenyum, senyum yang kusuka itu. Si Ibu terlihat bangga dengan hartanya itu. Terpancar dari rona wajahnya yang seakan menghapus rasa lelah yang sebelumnya sangat jelas terlihat. Dengan sangat bangga ia menjawab, “Jalan dua tahun,” setelah Ibu itu menanyakan berapa usia si Adik. Aku merinding dibuatnya. Betapa dahsyat naluri suci itu yang seakan bisa membunuh habis rasa lelah.   Kereta mulai memasuki wilayah yang secara administratif menjadi bagian dari kotaku. Si Adik mulai berhenti menangis bersamaan dengan turunnya gerimis. Semakin ke arah selatan, semakin aku mendekati stasiun tempatku turun sepuluh menit lagi, semakin deras rupanya gerimis ini. Pantas julukannya kota hujan karena nyaris setiap sore turun hujan meski hanya serintik untuk menyiram bunga nenek di pekarangan rumah. Aku mulai mengambil tas selempangku dari atas situ. Langsung aku cek isinya. Ternyata aku membawa payung. Pasti Nenek yang diam-diam menaruhnya tanpa sepengetahuanku.

Kereta berhenti sesaat di stasiun yang juga cukup ramai ini. Kereta yang tadi setengah penuh kini mulai beranjak kosong kembali. Tersisa beberapa kursi kosong. Si Ibu akhirnya memilih untuk duduk. Aku jadi tenang. Aku jadi lega. Aku jadi senang. Tidak hanya karena si Ibu sudah dapat duduk tenang, tapi juga karena sedikit jawaban akan pertanyaanku tentang mengapa Dia menciptakan cinta setulus itu kini terjawab langsung di hadapanku.

Aku mana tahu soal cinta seorang ibu. Ibuku adalah nenekku. Aku tak tahu ibuku. Nenek bilang Ibuku meninggal sesaat ketika aku dilahirkan. Nenek selalu mengingatkanku untuk membaca surat Yasin tiap kamis malam dan memohon keberkahannya untuk almarhumah ibuku. Di tiap shalat juga begitu. Nenek bilang ibuku wanita malang di dalam rasa cintanya yang sebegitu besar untukku. Aku hal terpenting baginya melebihi hal lain yang ia miliki. Setiap harinya adalah buatku dan hanya agar ia bisa memilikiku sepenuh hati kelak ketika aku dilahirkan. Banyak nama indah yang ibuku siapkan, begitu cerita nenek. Namun Allah sudah mengaturnya agar ibuku mendapat jatah tiket surga secara otomatis. Nenek bilang ibuku seorang syahidah. Ibuku meninggal bahkan ketika ia belum sempat puas melihat wajahku. Aku tak bisa mengenalnya hanya dari cerita nenek. Aku juga harus ke surga untuk mengenal ibuku sendiri. Nenek selalu mewanti-wantiku agar selalu menghormati setiap ibu di manapun aku menemuinya. Setelah sampai rumah nanti aku akan bercerita kepada nenek tentang si Ibu dan anaknya ini.

Kereta perlahan  mulai melambat. Akhirnya tiba juga. Payung mulai kubuka setengahnya. Aku perlu menengok si Ibu dan si Adik dulu sebelum turun. Mereka belum hendak turun, mungkin di stasiun berikutnya. Barangkali ini perjumpaan kita yang pertama dan yang terakhir kalinya, Bu. Aku pamit meski hanya di dalam hati. Hujan semakin deras. Ku tengok ke belakang. Si Ibu terlihat memandangi hujan. Kereta mulai berjalan kembali. Ku harap si Ibu membawa payung karena kutahu si Adik lah yang ia khawatirkan. Nenek selalu bilang, seorang anak adalah segalanya bagi seorang ibu. Segalanya bahkan sampai seorang ibu merelakan hidupnya untuk hidup anaknya. Batas pengorbanan seorang ibu hanyalah kematian.

Sebenarnya aku khawatir jika si Ibu alpa membawa payung. Tapi, aku sadar untuk tidak meremehkan si Ibu lagi. Sudah ia buktikan tadi. Aku percaya padanya. Ia bisa mengatasinya jikapun ia lupa membawa payung. Aku tak sabar untuk sampai rumah, ingin bercerita kepada nenek tentang kisah ini.

 

Depok, 24 Maret 2009

About Agung AtTambuniy

Ayah 2 anak. Hamba Allah yang ingin beramal jariyah. -Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu-

View all posts by Agung AtTambuniy →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *