Dahsyatnya Pembebasan Pasuruan oleh Pasukan Islam (1): Persiapan Pembebasan

Politik Nusantara menjelang upaya pembebasan Pasuruan oleh Pasukan Islam terbagi menjadi beberapa kerajaan dengan pengaruh kekuatan internasional yang didasari oleh kekuatan agama. Kekuasaan Islam berpusat di Demak Bintoro, kekuasaan politik Katolik Portugis berbasis di Malaka, sedangkan kekuasaan Hindu – Budha merupakan sisa kekuatan yang tercerai berai menjadi beberapa kerajaan yang meliputi 3 titik utama yaitu Pajajaran, Daha Kediri dan Pasuruan-Panurukan di bawah Blambangan.

Gambar Masjid Demak
Credit: http://jagosejarah.blogspot.co.id/2015/09/sejarah-kerajaan-demak.html

Oleh karena melemahnya kekuasaan politik Hindu – Budha, termasuk Kerajaan Blambangan, untuk menghadapi kekuatan Islam di Demak Bintoro, mereka menjalin kerjasama dengan Katolik Portugis. Kerjasama ini dianggap saling menguntungkan karena Kerajaan Blambangan mendapatkan dukungan pasukan dan persenjataan dari Portugis sementara Portugis mendapatkan hasil bumi dari Blambangan untuk keperluan hidup dan perdangannya di Malaka.  Raja Blambangan pun telah mengundang perwakilan Portugis ke wilayahnya.

Gambar Peta Demak, Pasuruan, Panarukan dan Blambangan
Credit: https://www.slideshare.net/prammisbah/kerajaan-demak-26882672?from_action=save

Keberpihakan Portugis di Blambangan ini merupakan suatu hal yang berbahaya. Di Maluku, Portugis menjadi biang adu domba antara Kesultanan Ternate dan Tidore. Di Malaka, Portugis menguasai perdagangan sehingga menyebabkan perdagangan di Nusantara lumpuh. Di Makassar, Portugis mendapatkan perlawanan sengit dari Umat Islam Makassar.

Persiapan Penaklukan Pasuruan

Sultan Trenggono menjadi penggagas utama dalam penaklukan Pasuruan ini sebagaimana telah banyak diberitakan oleh Ferdinand Mendez Pinto dalam, “The Travels of Mendez Pinto”. Pada bab 172 “The Ambassadress From Java” (Duta Wanita dari Jawa) disebutkan bahwa Nyai Pembayun, seorang janda berusia 60 tahun dan merupakan duta wanita dari Kesultanan Demak, menyampaikan pesan penting dari Sultan Trenggono kepada Fatahillah yang telah berhasil menaklukan Sunda Kelapa.

Gambar Arak-arakan Pasukan Islam Demak bersama Wali Suci

Isi pesan Sultan Trenggono adalah perintah kepada Fatahillah untuk sampai di Kota Jepara dalam waktu 6 minggu guna membantu persiapan pasukan Islam dan perbekalan tempur yang cukup untuk mengadakan pembebasan di Blambangan dengan memulainya dari pelabuhan Pasuruan. Fatahillah lah yang ditunjuk menjadi General of Army dari Pasukan Islam Demak dalam pembebasan ini.

Fatahillah menyambut pesan dari Sultan Trenggono dengan memberangkatkan armada laut dengan 30 calaluzes (kapal laut) dan 10 jurupango penuh dengan persiapan makanan dan perlengkapan perang. 40 perahu besar dan 7000 pejuang juga diberangkatkan. Selain itu, terdapat juga sebuah kapal yang berisi 40 orang Portugis yang ditawari imbalan oleh Fatahillah untuk membantu dalam pembebasan Pasuruan. Di antara orang Portugis itu, terdapat Mendez Pinto yang catatan perjalanannya membantu menyingkap sejarah dalam pembebasan ini.

Dari catatan Mendez Pinto, bab 173 “The Javanese Lay Siege to Panarukan”, halaman 384 disebutkan bahwa pada 5 Januari 1546 M, Fatahillah sebagai Raja Sunda berangkat dari Pelabuhan Banten. Pada tanggal 19 Januari 1546 M beliau sampai ke Kota Jepara. Pada saat itu, Sultan Trenggono sebagai Raja Demak, penguasa Tanah Jawa, telah memobilisasi pasukan perang yang sangat besar jumlahnya yaitu mencapai 800.000 tentara.

Setelah iring-iringan kapal perang dari Banten sampai ke Jepara, 14 hari kemudian Sultan Trenggono mengirimkan iring-iringan armada sebanyak 2700 kapal menuju Kota Pelabuhan Pasuruan. Armada itu terdiri dari 1000 kapal Jung dan sisanya adalah kapal dayung. Pada 11 Februari, sampailah mereka di ambang Sungai Hicandure, jalan masuk Pasuruan.

Pembagian Pasukan Islam

Pada 8 Februari 1546 M, Adipati Islam Panarukan mendapati besarnya jumlah iring-iringan kapal armada Demak ini tidak mampu memasuki sungat untuk mendekat ke pusat Kota Panarukan, karena sauh jangkar tidak mampu menjangkau tepian sungai sehingga ada saran untuk membakar beberapa kapal Jung agar dapat merapat ke tepi pelabuhan karena terlalu banyak dan terlalu besar ukuran kapal.

Gambar Kapal Jung Nusantara
Credit: http://www.wacana.co/2009/02/kapal-jung-nusantara/

Pasukan Islam mengadakan persiapan perang pembebasan di Paseban, sebuah tempat megah yang dikelilingi oleh tembok besar. Pasukan Islam mengadakan berbagai festival penting dengan disertai dengan doa bersama yang penuh dengan kekhusyua’an. Sultan Trenggono Trenggono mengerahkan 70.000 orang dan berparade di tengah kota namun hanya 12.000 pasukan saja yang menjadi pasukan regular dan sisanya menjadi pasukan cadangan. Sultan Trenggono membagi Pasukan Islam dalam 4 tugas:

  • ·         Pasukan Reguler Empat Brigade (artillery)

Sultan Trenggono membagi pasukan regular setingkat divisi ini ke dalam 4 brigade dengan 4 bendera di setiap brigadenya. Sehingga dari 12.000 pasukan regular, maka terdapat 3000 pasukan dalam setiap brigade. Sebagai komandan umum dari pasukan regular ini adalah pamannya, yaitu Quiay Panaricao (Kyai Panjirakan, putra Sunan Giri) karena di masa lalu dia telah berpengalaman dalam pertempuran.
Quaiay Panaricao juga didaulat sebagai komandan brigade ke-1. Brigade ke-2 dipimpin oleh seorang berkebangsaan Mandarin namanya Quiay Anseda (Kyai Sedah). Brigade ke-3 dipimpin oleh seorang Cham yang lahir di Borneo bergelar Necoda Solor. Sedangkan brigade ke-4 dipimpin oleh seorang Pembekel (Pambacalhujo, Panbacaluio). Semua dari mereka ini adalah para perwira yang sangat baik dan memiliki keberanian luar biasa.
  • ·        Pasukan Meriam (Artillery)

Pasukan Meriam dibantu oleh Pasukan Islam dari Kekhilafan Turki Utsmani dan Aceh yang sangat ahli dalam pembuatan dan penggunaan senjata Meriam. Pasukan ini dikoordinir oleh Coje Geinal (Khoja Zainal) seorang Portugis yang dianggap sebagai pengkhianat oleh kaum Katolik Portugis karena telah masuk Islam dan membela umat Islam.
Coje Geinal awalnya adalah seorang Katolik asal Algarve yang sangat ahli dalam membuat meriam. Beliau yang memimpin orang Islam Turki dan Aceh untuk membuat meriam dan melatih cara penggunannya. Setelah masuk Islam, hidupnya digunakan untuk mengabdikan diri kepada Allah di bawah perintah Kerajaan Islam Demak, Sultan Trenggono. Kontribusi beliau yang terkenal adalah meriam Ki Amuk yang sangat besar dan dibuat pada 1528 M.
Gambar Meriam Ki Amuk
Credit:https://daerah.sindonews.com/read/1009862/29/legenda-meriam-ki-amuk-jelmaan-prajurit-demak-yang-dikutuk-1433683186
  •  Pasukan Amuk berani mati
      Jika terjadi kondisi yang genting, terdapat sebuah tradisi yang dilakukan secara sukarela oleh ribuan pasukan Kerajaan Islam Demak, yaitu pasukan amuk berani mati yang dengan sukarela melakukan serangan istisyhad (memburu kematian). Mereka sangat berani untuk menerobos barisan pasukan musuh dengan risiko tinggi tanpa ada rasa gentar sedikit pun di hati mereka.
Sebelum melakukan serangan berani mati, pasukan ini biasanya mengusapkan minyak wangi pada tubuhnya sebagai tanda bahwa mereka benar-benar siap serangan istisyhad. Minyak tersebut berasal dari tumbuhan Mundu (Garcinia Dulcis). Oleh Mendez Pinto, minyak ini dia tulis dengan Minhamundy (minyak mundu). Pengolesan minyak ini pada tubuh mereka menjadi tanda bahwa mereka telah siap melakukan aksi amuck (istisyhad), yaitu mengamuk di barisan lawan untuk menghancurkan lawan dan menyongsong kematian, syahid di jalan-Nya.
·        Pasukan Pengawal Sultan
Sultan Trenggono juga membentuk pasukan khusus yang bertugas menjadi pengawal dan pengaman Sultan. Pasukan khusus ini dinamakan Hulubalang yang terdiri dari enam pengawal yang dipilih dari prajurit penjaga kerajaan yang dinamakan Ambarrajas.
Gambaran peperangan yang dahsyat dan diwarnai dengan syahidnya Sultan Trenggono akan dilanjutkan insya Allah dalam beberapa waktu ke depan… (bersambung)
Referensi
Abdullah, Rachmad. 2016. Kerajaan Islam Demak Api Revolusi Islam di Tanah Jawa. Sukoharjo: Al Wafi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *