Mengusir Anak Kecil dari Masjid?

Selepas perjalanan dari Jakarta, saya beserta istri dan anak saya, Aqsha, beristirahat sebentar di masjid sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah orang tua di Bekasi. Aqsha sangat senang berada di masjid sehingga dia berlari-lari di luar masjid. Kebetulan pada saat itu, sedang ada kajian di masjid yang dipimpin oleh pembicara yang tampak sudah senior dengan peserta kira-kira 20-30 orang. Karena Aqsha berlari lebih kencang daripada saya, Aqsha pun bisa masuk ke tengah kajian sambil berlari. Pembicara kajian tampak tidak suka terhadap hal itu, sehingga beliau melarang Aqsha berlari di dalam masjid sambil tetap memegang microphone, mengganggu kekhusu’an katanya, sehingga semua peserta kajian melihat ke arah Aqsha. Saya pun bergegas menggendong Aqsha untuk pulang.

Ketika kecil dulu, saya pernah shalat di masjid. Selesai shalat, tiba-tiba ada orang tua yang membentak saya padahal saya shalat mengikuti imam dari awal hingga akhir, rupanya beliau mengira saya seperti teman-teman saya yang bercanda sepanjang shalat. Ketika remaja, saya pun permah beberapa kali melihat ada anak kecil yang bercanda ketika shalat. Mereka pun langsung dibentak sehabis shalat oleh orang dewasa yang ikut shalat.

Kini, tidak ada lagi anak kecil yang becanda ketika shalat dibentak sehabis shalat karena mereka sudah pergi dari masjid sebelum imam mengucapkan salam.

 

         credit: ChanelMuslim

Rasulullah dan Anak Kecil di masjid

Ketika kita berfikir bahwa anak kecil yang berisik dan suka berlarian itu seharusnya tidak masuk ke dalam masjid, maka secara tidak langsung kita telah menjauhkan generasi muda dari masjid. Mereka bisa berfikir lebih baik nonton televisi di rumah daripada harus ke masjid hanya untuk mendapatkan omelan.

Kejadian anak kecil masuk ke masjid bahkan sampai mengganggu Rasulullah SAW sebagai imam shalat jamaah pernah direkam dalam hadits:

Sahabat Nabi yang bernama Syaddad ra meriwayatkan, bahwa Rasulullah datang – ke masjid- mau shalat Isya atau Zuhur atau Asar sambil membawa -salah satu cucunya- Hasan atau Husein, lalu Nabi maju kedepan untuk mengimami shalat dan meletakkan cucunya di sampingnya, kemudian nabi mengangkat takbiratul ihram memukai shalat. Pada saat sujud, Nabi sujudnya sangat lama dan tidak biasanya, maka saya diam-diam mengangkat kepala saya untuk melihat apa gerangan yang terjadi, dan benar saja, saya melihat  cucu nabi sedang menunggangi belakang nabi yang sedang bersujud, setelah melihat kejadian itu saya kembali sujud bersama makmum lainnya. Ketika selesai shalat, orang-orang sibuk bertanya, “wahai Rasulullah, baginda sujud sangat lama sekali tadi, sehingga kami sempat mengira telah terjadi apa-apa atau baginda sedang menerima wahyu”.  Rasulullah menjawab, “tidak, tidak, tidak terjadi apa-apa, cuma tadi cucuku mengendaraiku, dan saya tidak mau memburu-burunya sampai dia menyelesaikan mainnya dengan sendirinya.” (HR: Nasa’i dan Hakim)

Hadits di atas dilanjutkan dengan percakapan antara Rasulullah dan Umar Bin Khattab RA dalam buku “Hati-hati terhadap media yang merusak anak” terbitan Gema Insani Press tahun 1990:

Dari Umar bin Khattab RA, katanya, “Saya melihat Hasan dan Husain berada di pundak Nabi SAW. Saya kemudian berkata kepada kedua anak itu, “Sungguh! Kuda terbaik yang kalian tunggangi itu.” Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Sungguh, keduanya adalah penunggang kuda terbaik.” (Oleh Abu Yu’ala)

Rasulullah SAW selaku suri teladan yang baik untuk kita semua saja tidak marah ketika ada anak kecil mengganggu dalam shalatnya dan jamaah yang lain pun tidak marah. Seandainya, peristiwa naiknya Hasan dan Husein ke punggung Nabi ketika shalat ini terjadi pada kita di zaman sekarang maka mungkin saja ceritanya akan berbeda.

Dalam masjid, Rasulullah SAW tidak hanya berbelas kasih terhadap cucunya tapi juga kepada anak kecil yang lain:

“Kalau sedang shalat, terkadang saya ingin shalatnya agak panjangan, tapi kalau sudah mendengarkan tangis anak kecil -yang dibawa ibunya ke masjid- maka sayapun menyingkat shalat saya, karena saya tau betapa ibunya tidak enak hati dengan tangisan anaknya itu.” (HR: Bukhari Dan Muslim) 

Rasulullah SAW bahkan membolehkan kita untuk menggendong anak kecil ketika shalat:

Abu Qatadah ra mengatakan: “Saya melihat Rasulullah saw memikul cucu perempuannya yang bernama Umamah putrinya Zainab di pundaknya, apabila beliau shalat maka pada saat rukuk Rasulullah meletakkan Umamah di lantai dan apabila sudah kembali berdiri dari sujud maka Rasulullah kembali memikul Umamah.” (HR. Bukhari & Muslim)

Tidak hanya dalam shalat , Rasulullah juga pernah menggendong cucunya ketika khutbah:

Abdullah Bin Buraidah meriwayatkan dari ayahandanya: Rasulullah sedang berkhutbah -di mimbar masjid- lalu -kedua cucunya- Hasan dan Husein datang -bermain-main ke masjid- dengan menggunakan kemeja kembar merah dan berjalan dengan  sempoyongan jatuh bangun- karena memang masih bayi-, lalu Rasulullah turun dari mimbar masjid dan mengambil kedua cucunya itu dan membawanya  naik ke mimbar kembali, lalu Rasulullah berkata, “Maha Benar Allah, bahwa harta dan anak-anak itu adalah fitnah, kalau sudah melihat kedua cucuku ini aku tidak bisa sabar.” Lalu Rasulullah kembali melanjutkan khutbahnya. (HR: Abu Daud)

Antara Kekhusyu’an dan Anak Kecil

Ada yang beralasan bahwa adanya anak kecil akan membuat kekhusyuan dalam shalat terganggu karena anak kecil akan teriak-teriak, bercanda dan berlarian di depan kita ketika shalat. Padahal seharusnya kalau sudah khusyu’ shalat, jangankan ada teriakan anak kecil, bahkan kita tetap bisa melaksanakan shalat meskipun telah ditusuk pisau dari belakang seperti apa yang dilakukan oleh Abu Lu’luah kepada Umar Bin Khattab atau seperti Urwah Bin Zubair yang menolak untuk diberikan bius dan khamr dan memilih untuk shalat ketika kakinya diamputasi.

Namun, kita tidak bisa memungkiri bahwa memang setiap orang bisa mencapai kekhusyuan dengan cara yang berbeda. Ada yang mendapat kekhusyu’an dalam kondisi ramai tapi ada yang bisa mencapai kekhusyu’an dalam kondisi sepi. Untuk menjawab permasalahan tersebut, kita bisa belajar dari Masjid Jogokariyan di Yogyakarta yang menyediakan ruangan khusus untuk anak-anak bisa shalat bahkan menyediakan uang saku bagi anak kecil yang Shalat Subuh di Masjid.

credit: Masjid Jogokariyan

Anak-anak dan Masjid seharusnya tidak boleh dipisahkan. Anak-anak harus bahagia berada di dalam masjid sehingga anak-anak bisa tumbuh kecintaan terhadap Islam dan Masjid. Jangan sampai ia lebih mencintai warnet, rental playstation atau handphone daripada masjid. Kalau anak-anak sudah cinta masjid, maka insya Allah ia bisa menjadi penegak Islam di masa depan

 

Credit : voa-islam.com
 
Referensi:
Bahraen, Raehanul. 2013. Shalat dengan Darah Terus Mengalir dari Luka. Desember 29. Accessed Juli 22, 2017. https://muslimafiyah.com/shalat-dengan-darah-terus-mengalir-dari-luka.html.
Hidayatullah. 2016. Jangan usir anak kita dari masjid. Maret 22. Accessed Juli 2017. https://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2016/03/22/91553/jangan-usir-anak-anak-kita-dari-masjid.html .
Masjid Jogokariyan Fans Page. 2016. Masjid Ramah Anak, Lansia dan Disabilitas. Juli 17. Accessed Juli 22, 2017. https://www.facebook.com/masjidjogokariyan/posts/1139352952788497:0 .
Nuh, Muhammad. 2010. Mereguk Mata Air Sabar ‘Urwah bin Zubair. Maret 11. Accessed Juli 22, 2017. https://www.eramuslim.com/peradaban/bercermin-salaf/mereguk-mata-air-sabar-urwah-bin-zubair.htm#.WXNsBbY3HIU.
Wahid, Abdul. 2015. Belajar Memakmurkan Masjid dari Jogokariyan. September 18. Accessed Juli 22, 2017. http://www.muslimdaily.net/artikel/opini/belajar-memakmurkan-masjid-dari-jogokariyan.html.
Yakin, Muna Hadad. 1990. Hati-hati terhadap media yang merusak anak. Jakarta: Gema Insani Press.
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *