Wayang dan Islam di Nusantara

Rachmad Abdullah dalam bukunya Sultan Fattah menjelaskan tentang wayang kulit dan kaitannya terhadap Islam. Ia memulai dengan keterangan dari Ma Huan yang menjadi penterjemah Cheng Ho dalam buku Ying Ya Shen Lan.

Ma Huan mencatat bahwa di Jawa ada suatu pertunjukkan yang menarik berupa satu bentuk yang menggambarkan tokoh-tokoh manusia, burung, binatang, ulat dan lain-lain pada kajang (anyaman daun) sebagai pengganti kertas, kemudian digulung menjadi rol dan dipasangkan pada 2 tiang setinggi 3 chi (kira-kira 1 meter) atau setinggi tubuh manusia.

Seseorang duduk bersila di atas tanah dengan gambar terpancang. Setiap kali membeberkan suatu adegan, orang itu bercerita dalam bahasa setempat dengan suara yang lantang, mengisahkan seluk beluk kejadiannya sehingga para penonton yang duduk mengelilingan menyimak dengan asyik.  Ketika mendengar kisah yang lucu, mereka pun tertawa.  Sebaliknya jika kisahnya menyedihkan, mereka pun bisa menangis terharu.

Dari catatan Ma Huan di atas, pertunjukkan yang dimaksudkan adalah pertunjukkan wayang. Sebelum Islam datang dan berkembang di Pulau Jawa, masyarakat Jawa memang telah akrab dengan berbagai kesenian baik seni pertunjukkan wayang dengan gamelannya maupun seni tarik suara. Karena itulah, para wali mengambilnya sebagai sarana dakwah. Tujuannya adalah untuk mempermudah masuknya ajara Islam kepada masyarakat Jawa lewat apa yang menjadi kegemarannya.

Ternyata, metode dakwah dilakukan oleh para wali tersebut mampu menarik simpati masyarakat. Pertunjukkan wayang kulit sendiri telah berkembang sejak zaman Kerajaan Kediri di era Joyoboyo yang memerintah tahun 1135-1157. Saat itu, wayang masih berbentuk purwa atau lembaran kertas yang dilukisi sehingga dikenal dengan wayang beber.

 

Gambar Wayang Beber

 

 Credit: https://waybemetro.wordpress.com/category/semua-tentang-wayang-beber/
Musyawarah para Wali tentang wayang

Sebelum para wali menetapkan wayang kulit sebagai sarana dakwah, para Wali terlebih dahulu melakukan musyawarah untuk memutuskan status hukum gambar pada wayang yang mirip manusia.  Karena, wayang berbentuk dua dimensi yang berbeda dengan arca-arca para Dewa Syiwoisme-Budha yang berbentuk patung 3 dimensi.

Sunan Giri berpandangan bahwa wayang semacam itu hukumnya tetap haram karena menyerupai ciptaan Allah.  Agar tidak berstatus haram, Sunan Kalijaga mengusulkan apa yang menjadi penyebab keharamannya dihilangkan.

Sunan Kalijaga menyarankan agar diubah bentuknya agar tidak menyerupai manusia. Caranya adalah dengan mengubah tangannya lebih panjang sampai melampaui kakinya, hidungnya dibuat lebih panjang, kepalanya dibuat menyerupai kepala binatang, bentuknya dibuat gepeng, dan lain sebagainya. Dengan perlakuan demikian, bentuk wayang yang telah diubah tidak lagi menyerupai manusia. Dengan dipelopori oleh Sunan Kalijaga, pada tahun 1443 M dibuatlah wayang versi baru sekaligus gamelannya.  Bahkan Sunan Kalijaga minta dibuatkan seperangkat gamelan yang bernama Kyai Sekati.

Karena cerita wayang sebelumnya diambil dari ajaran Hindu seperti Mahabarata dan Ramayana, maka oleh Sunan Kalijaga dimasukkanlah unsur-unsur Islam ke dalam cerita perwayangan. Tokoh-tokoh wayang yang disebut Punakawan dibentuk oleh Sunan Kalijaga. Mereka adalah Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Tokoh lain yang dibuat adalah Togog.

 

Gambar Punakawan

Sumber : http://djerugangsiji.blogspot.co.id/2013/06/kisah-asal-mula-petruk-gareng-bagong.html

Masing-masing nama dari tokoh tersebut terinspirasi dari kosakata Bahasa Arab:
  • ·         Semar berasal dari Bahasa Arab, yaitu Simarun, artinya paku yang berarti Islam yang telah dipeluk oleh rakyat Jawa harus dihujamkan ke dalam hati sampai kokoh bagaikan paku yang sulit dicabut
  • ·         Petrukberasal dari Bahasa Arab, yaitu fatruk, kata perintah yang berarti “tinggalkanlah”. Maknanya identik dengan fatruk kulla man siwallah, yaitu tinggalkanlah segala sesembahan selain Allah
  • ·         Garengberasal dari Bahasa Arab, yaitu qariin (nalaa qarin). Berisi satu pesan agar memperbanyak sahabat dan saudara. Orang-orang Jawa yang telah masuk Islam agar mengajak kerabat dan orang-orang sekitarnya untuk memeluk Islam sehingga jumlah umat Islam semakin banyak dan jalinan persahabatan semakin kuat
  • ·         Bagongjuga berasal dari Bahasa Arab, yaitu baghayan, artinya adalah bughat, sebuah nasihat agar melakukan penentangan terhadap segala bentuk kezhaliman. Ada juga yang berpendapat agar jangan sekali-kali membangkan atau memberontak terhadap para pemimpin Islam
  • ·         Togog berasal dari Bahasa Arab yaitu thaghut, artinya iblis, mengandung pesan agar setiap orang Jawa yang telah memeluk Islam untuk menjauhi segala thaghut yang disembah selain Allah. Karena pada hakikatnya, semua thaghut adalah iblis.

 

Gambar Togog
Credit: https://wayang.wordpress.com/2010/07/18/togog/

Referensi

Abdullah, Rachmad. 2016. Sultan Fattah. Solo: Al Wafii.