Bilal dan Sandalnya

Bilal bin Rabah adalah nama seorang sahabat yang melalui dia, kita akan dapat banyak pelajaran. Ia adalah seorang mantan budak orang kafir yang sering dihina karena kulitnya yang hitam bahkan ia pernah diseret dengan posisi telungkup dan tangan diikat ke kuda di tengah panasnya padang gurun Arab karena kesaksiannya akan Islam. Bilal sangat teguh dalam Islam dan sangat Sabar dalam menghadapi berbagai macam cobaan yang berat.

Maka, Maha Suci Allah yang telah meninggikan seorang Bilal bin Rabah melalui Nabi Muhammad dalam hadits berikut:

 Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu. Bahwasannya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pernah bersabda kepada Bilal selepas shalat Shubuh

“Ceritakan kepadaku satu amalan yang paling engkau andalkan dalam Islam, karena dalam suatu malam aku pernah mendengar suara terompahmu berada di pintu surga”, Bilal berkata : “Setiap aku berwudhu, kapan pun itu, baik siang maupun malam, aku selalu melakukan shalat dengan wudhu tersebut”(HR. Al Bukhari)

 

 Ilustrasi Sendal

Credit: http://batam.tribunnews.com/2017/01/31/di-bukittinggi-ada-satpol-pp-wanita-yang-jaga-sandal-di-masjid-agar-tidak-hilang-saat-shalat-jumat

Rekaman pembicaraan antara Nabi Muhammad dan Bilal bin Rabah yang diingat dengan baik oleh Bukhari tersebut tak hanya mengandung hikmah yang menguatkan ruhiyah, tapi juga teknologi yang bisa diterapkan dalam kehidupan temporer. Mari renungi bersama hikmah-hikmah dalam hadits di atas.

Konsisten dalam beramal
“Shalat sunnah setelah wudhu” adalah jawaban Bilal atas pertanyaan Rasulullah tentang amalan unggulannya. Bilal tak menjawab pengorbanannya diseret di atas pasir panas dulu, ia juga tak menjawab azan merdu dari lisannya yang mengumpulkan umat Muslim untuk Shalat, ia malah menjawab “Shalat sunnah setelah wudhu” yang dilakukannya kapan pun setiap ia selesai berwudhu.

Konsisten adalah poin plus dari shalat sunnah setelah wudhu bilal. Amalannya mungkin tidak besar secara kuantitas pahalanya, namun ia melakukannya secara konsisten, dan justru amalan kecil yang dilakukan konsisten lah yang paling diandalkan untuk membuat seorang Bilal masuk surga.

Konsisten pula yang menjadikan seorang sahabat yang tak pernah diketahui namanya bisa menjadi ahli syurga. Rasulullah lah yang menggaransi sahabat itu masuk surga.  Ibnu Umar bertanya kepada sahabat itu setelah 3 hari menginap di rumahnya dan tak menemukan amalan spesial yang dilakukannya. Ibnu Umar bertanya kepadanya tentang amalan apa yang bisa membuat ia masuk surga, sahabat itu menjawab “memaafkan semua orang yang menyakitinya sebelum tidur”. Sahabat itu konsisten terhadap amalannya, meski amalannya kecil namun ia konsisten hingga ia layak disebut Rasulullah sebagai Ahli Syurga.

Lantas apa amalan andalan kita? Sebaiknya, memang setiap orang memiliki amalan unggulannya masing-masing yang mudah baginya sehingga ia dapat melakukannya secara konsisten. Amalan itu bisa saja shalat dhuha, shaum sunnah ataupun menulis secara rutin asalkan diniatkan untuk ibadah.

Hati-hati dalam memvonis bid’ah

Berbagai macam sumber menyebutkan bahwa sebenarnya Shalat Sunnah Setelah Wudhu yang dilakukan oleh Bilal adalah sebuah ibadah yang belum dicontohkan oleh Rasulullah, namun hal itu ditaqrir (disetujui) oleh Rasulullah.

Di dalam hadits disebutkan bahwa semua bid’ah itu sesat. Yang menjadi pertanyaan adalah amalan seperti apa yang disebut sebagai bid’ah ? Rasulullah SAW menyatakan bahwa apa saja yang baru adalah bid’ah. Muncul pertanyaan berikutnya, apakah perkataan beliau itu berlaku umum atau ada pengecualiannya?. Hal ini perlu dipertanyakan karena banyak sekali nash – nash yang umum, ternyata ada pengecualiannya. Kalau dikatakan sabda Rasulullah SAW tersebut diberlakukan dalam keumumannya ( dalam arti, apa saja yang tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah bid’ah ), maka, Bilal adalah pelaku bid’ah karena dia mengerjakan shalat sunnah wudhu’ yang tidak dikerjakan dan tidak juga diperintahkan oleh Rasulullah. Usman bin ‘Affan juga pelaku bid’ah karena menambah azan Jum’at jadi dua kali, padahal pada masa Rasulullah SAW adzan Jum’at itu cuma sekali. Khabbab ( salah seorang sahabat ) juga pelaku bid’ah, karena dialah yang pertama kali shalat dua raka’at sebagai ungkapan sabar. Tetapi adakah di antara kita yang berani mengatakan ketiga sahabat itu pelaku bid’ah yang sesat?. Ini menunjukkan bahwa di kalangan para sahabat ternyata terdapat sebuah konsep bahwa untuk mengerjakan sesuatu yang baik, tidak perlu menanyakan ini dilakukan oleh Rasulullah atau tidak, tetapi cukup dengan dalil-dalil umum saja.

Lalu, ada yang membantah, ini kan termasuk sunnah juga karena sudah disetujui ( ditaqrir ) oleh Rasulullah. Sekarang Rasulullah SAW sudah wafat, jadi tidak mungkin ada taqrir lagi. Ini benar sekali, tetapi yang ditaqrir oleh Rasulullah itu bukan amalan sahabatnya itu saja, tetapi Rasulullah juga mentaqrir konsep atau pola pikir atau metode ijtihad mereka. Dalilnya adalah, kita tidak menemukan satu riwayat pun yang menyatakan bahwa Rasulullah pernah marah dan menolak amalan-amalan baik yang dilakukan oleh para sahabat atas inisiatif mereka sendiri. Bahkan, semua amaliah sahabat ( walaupun tidak dikerjakan dan diperintahkan oleh beliau SAW ) selalu diterima dan dihargai. Ada sahabat yang selalu membaca surah al-Ikhlas ( di samping surah lain ) setelah al-fatihah di dalam shalat, ada lagi yang membaca do’a I’tidal dengan do’a yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah, dan ada juga sahabat yang duduk-duduk berkumpul untuk berdzikir. Ternyata, semua yang dilakukan sahabat tadi disetujui dan diapresiasi oleh Rasulullah SAW.

Contoh lain, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk menjadikan shalat witir sebagai penutup shalat malam. Ternyata Abu Bakar al-Shiddiq, shalat witir di awal malam ( sebelum tidur ) kemudian setelah bangun lewat tengah malam, beliau shalat malam ( qiyam al-lail ), tidak shalat witir lagi. Ini menyalahi perintah Rasulullah SAW. Ini, awalnya belum diketahui dan belum disetujui oleh Rasulullah, bahkan Abu Bakar pun tidak bertanya kepada Rasulullah SAW apakah ini boleh atau tidak, sampai-sampai suatu sa’at Rasulullah SAW sendiri yang bertanya kepada Abu Bakar, bagaimana shalat malam beliau? Setelah mendengar jawaban Abu Bakar, Rasulullah SAW bersabda : “Engkau orang yang hati-hati”. Mengapa Abu Bakar tidak bertanya dulu kepada Rasulullah sebelum melakukannya? Ini barangkali karena Abu Bakar punya konsep : Selama sesuatu itu baik, tidak ada larangan dalam al-Qur’an dan al-Hadits, dan ada perintah umumnya, maka itu sah – sah saja. Mengapa juga Rasulullah SAW tidak pernah marah terhadap para sahabatnya yang “neko-neko” ( melakukan amal yang tidak dicontohkan beliau ) sebagaimana banyak diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits ?. Mengapa pula amalan baik para sahabatnya, walaupun tidak pernah dicontohkan oleh beliau, selalu dihargai dan diapresiasi oleh beliau ? Ini, barangkali, karena Rasulullah SAW juga punya konsep : Beliau sudah menjelaskan prinsip-prinsip umum kebaikan, maka siapa saja yang berbuat sesuai dengan prinsip kebaikan, maka ia mendapat kebaikan, walaupun beliau tidak melakukannya.

Rasulullah sangat menyayangi ummatnya, “ummatku, ummatku, ummatku” merupakan kata-kata yang keluar dari Rasulullah menjelang wafatnya yang membuktikan bahwa beliau sangat sayang kepada ummatnya.

 

Rasa sayang Rasulullah pun terbukti dalam hadits ini. Sangat besar rasa sayang Rasulullah, hingga beliau pun hapal bunyi terompah (sandal) dari seorang Bilal. Rasulullah langsung mengenali bahwa bunyi dalam mimpinya adalah bunyi terompah, dan beliapun langsung mengenali bahwa terompah tersebut milik Bilal padahal Rasulullah tak melihat wajah Bilal dalam mimpinya, ia hanya mendengar suara terompahnya.

Hal ini kita ambil pelajaran untuk selalu mengenal objek dakwah kita hingga ke hal-hal yang detail. Jika kita sudah kenal hal-hal yang detail dalam objek dakwah kita, maka kita pun akan tahu metode dakwah yang tepat untuk mereka.

Teknologi dalam Sandal (Terompah) Bilal

Keutamaan amal Bilal ra. yang selalu melaksanakan shalat setelah berwudhu mungkin sudah sangat familiar bagi kita. Namun penggalan hadits di mana suara terompah yang Rasulullah saw kenali sebagai terompah atau langkah kaki bilal mungkin tidak banyak yang mengaitkannya dengan topik teknologi. Terlepas dari apakah karena kekhasan terompah Bilal, atau memang irama langkah kaki bilal yang unik, Rasulullah saw mengenali petunjuk yang beliau dengar tersebut dan mengidentifikasinya sebagai sesuatu yang “dimiliki” oleh Bilal. Identifikasi tersebut selain menunjukkan betapa dekatnya Rasul dengan para sahabatnya, juga menunjukkan kemungkinan bahwa  langkah manusia bisa menjadi petunjuk tentang siapakah identitas orang yang berjalan.

Pada masa sekarang ini, pengenalan/ identifikasi tersebut akan menjadi menarik jika sebuah mesin/komputer yang melakukannya. Teknologi yang mempelajari bagaimana agar unsur yang melekat pada manusia bisa dikenali sebagai identitas manusia itu sendiri disebut dengan biometrik. Teknologi identifikasi berkembang melalui kreasi yang berbasis filosofi tradisional, yakni “what you have” seperti kunci rumah (pemegangnya berarti “pemilik”nya), kartu pengenal seperti KTP, SIM, dsb,  atau dengan filosofi  “what you know” seperti mengingat password email atau pin ATM, dan akhirnya biometrik muncul dengan filosofi “what you are”, seperti sidik jari, suara, wajah, dsb, sejalan dengan berkembangnya juga masalah dan kebutuhan pengamanan/sekuriti yang semakin besar.

Salah satu teknologi biometrik terbaru yang muncul pada akhir tahun 90-an dan awal 00-an, adalah teknologi biometrik yang berbasis pada cara berjalan manusia. Penelitian berbasis psikofisika yang mengungkapkan bahwa cara berjalan manusia memang bisa dikenali dimulai pada tahun 70-an (Johansson et al., 1975), di mana percobaan dilakukan dengan menggunakan ruangan gelap dan bola lampu yang ditempelkan pada subjek manusia dan subjek tersebut diminta untuk berjalan di ruangan tersebut. Lalu seseorang yang lain diminta untuk mengenali siapakah atau gender apakah yang berjalan tersebut. Hasilnya diketahui bahwa memang sebagian besar identitas orang bisa dikenali berdasarkan petunjuk gerakan bola lampu di tubuh manusia yang berjalan.

Memasuki milenium baru, penelitian terkait dengan cara berjalan (yang selanjutnya disebut dengan gait), mulai memasuki dunia ilmu komputer. Penelitian berbasis gait ini mendapatkan perhatian yang cukup besar karena gait memiliki beberapa keuntungan yang tidak dimiliki oleh unsur biometrik lain. Yang pertama, gait tidak perlu menyentuh sensor secara langsung. Yang kedua, gait dapat di”tangkap” dari jarak jauh. Yang ketiga, untuk “menangkap” gait, tidak diperlukan kamera video (sebagai sensor) yang memiliki resolusi tinggi. Tujuan dari aplikasi biometrik gait ini diantaranya adalah pengawasan dan sekuriti (surveillance and security), pencegahan kejahatan atau terorisme, dan juga kesehatan (identifikasi jenis penyakit dari abnormalitas cara berjalan).

Referensi

Penjelasan Seputar Bid’ah

http://kammi-jepang.org/index.php?option=com_content&view=article&id=178:terompah-bilal-dan-teknologi-biometrik-gait&catid=38:ilmu-pengetahuan&Itemid=121

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *